Jumat, 14 Desember 2012

Memaafkan setelah disakiti. Mampukah? (part 2)


              Sejak kejadian tadi sore, aku tidak bisa menikmati waktu istirahatku dengan maksimal. Mataku sulit terpejam disaat bintang-bintang mulai padam dan sinar matahari meredup sayup. Otot-otot tubuhku sulit untuk dilemaskan. Pikiranku pun, sulit dipusatkan pada satu objek. Benar-benar menyiksa.
                Aku hanya mampu memejamkan mata selama beberapa menit. Tampaknya akan lebih menyakitkan bila aku terus memaksa seluruh tubuhku sesuai kehendak. Aku melenggang ke dapur, dapur kost-an tepatnya. Ruang yang kecil, sempit, dan tidak seindah dengan dapur di restoran tempat kerjaku.
                Lemari kecil itu berdenyit nyaring ketika kubuka pintunya. Nampaknya sudah terlalu tua, terlihat dari fisiknya yang sudah sangat “klasik”. Lemari kecil yang dibuat oleh Ayahku… ah, kini sudah menumpu banyak beban hidupku. Kuraih kaleng susu cair kental yang tersembunyi di dalamnya.  Kugoyangkan perlahan kaleng susu itu.. hmm, sudah hampir habis rupanya. Lebih baik kuhabiskan malam ini dengan tuntas. Kutuang air ke dalam panci kecil, dan mulai merebusnya.
                Cairan manis itu mengalir perlahan di tenggorokanku, terasa begitu hangat. Perlahan kunikmati uapnya yang mengepul di udara, membentuk awan-awan kecil yang mengapung, dan memudar membentuk semburat, lalu terhempas dan hilang. Sedikit demi sedikit cairan itu terus mengalir di tenggorokanku yang malang, dan mendarat di labungku yang mulai menciut. Rupanya perutku juga mulai menagih isi. Ini waktu yang tidak tepat bung, lebih baik kuhabiskan susu ini, dan kembali menghempaskan tubuh di ranjang yang sudah lapuk.
                Siapa yang menyangka pagi ini aku bangun terlalu siang? Tunggu, kedengarannya memang tidak aneh. Ini sudah menjadi rutinitasku setiap hari. Membuka mata disaat matahari sudah menyorot menembus kelopak mataku. Apalagi semalam aku sedikit begadang. Hah, wajar saja aku selalu kesiangan.
                Turun dari tempat tidur, aku melangkah menuju dapur (lagi). Kembali kubuka lemari kecil nan lapuk itu, dan kukeluarkan sebungkus roti tawar di dalamnya. Sebenarnya, roti ini sudah masuk tanggal kadaluwarsa, tepatnya hari ini. Ah, siapa peduli? Aku lapar, yang penting perutku kenyang dan tidak merintih-rintih kelaparan.
                Di meja masih tersedia sisa mentega dan kismis. Bukan meses. Kuoles sedikit mentega di permukaan selembar roti, lalu kutaburkan kismis kecil-hitam-keriput diatas mentega itu. Aku lipat rotinya, dan mulai menyantapnya.
                Hari ini adalah hari libur. Menghabiskan sarapan dengan santai bukan masalah kan? Bahkan aku terlalu bingung melakukan pekerjaan yang produktif di hari libur. Apa aku ke restoran saja? Masa bodoh bertemu bos amatir lagi, yang penting tidak mati kutu di kost-an. Sendirian.

----oOOo----
               

               “Hei bodoh, mau apa kau kesini?”
                Aku termangu tepat di depan pintu kaca. Masih dengan menggenggam gagangnya. Apa tadi dia bilang? Bodoh?
                “Maaf, sepertinya anda amnesia. Nama saya bukan bodoh. Saya Hafni” balasku cuek, namun berusaha untuk sinis. Sesinis mungkin.
                “Hahaha dasar belagu kau ini! Jangan mentang-mentang umur kita tidak beda jauh, kamu bisa seenaknya membangkang saya. Saya ini tetap bos kamu!” Dia bekata dengan lantang. Aku bisa melihat emosinya yang mulai terpancar di wajahnya yang menyebalkan. Aku hanya meringis, lalu melangkah mendekatinya. Sudah cukup, aku muak.
                Kucondongkan tubuhku ke tubuhnya, dengan hentakan tiba-tiba, aku mendorong tubuh kekarnya sekuat mungkin. Dia sedikit terjengkang. Kaget, dan marah. Tentu saja. Pasti dia seperti itu. “Anda memang bos saya, tapi bukan berarti anda bisa melengserkan harga diri saya semudah itu. Kau ini laki-laki paling lancang yang pernah kutemui” Semprotku telak. Bos amatir itu semakin terlihat emosi, napasnya mulai menderu, wajahnya memerah. Aku senang melihat dia seperti ini. Selevel lebih rendah dariku.
                Aku mulai malas menghiraukan iblis itu. Sia-sia liburanku kali ini. Kutinggalkan bos amatir itu, dan pergi ke belakang. Aku butuh tempat untuk menenangkan pikiran. Aku terlalu cuek dengan semua kebencian dia, rasanya terlalu malas mencari alasan dari kebencian itu. Pentingkah? Aku hanya butuh uang untuk menyambung hidup. Aku hanya ingin bekerja dengan baik, dan mendapat penghasilan yang baik pula dari kerja kerasku. Aku ingin kuat, tegar. Aku ingin diperhatikan. Dipedulikan.
                Kutatap air mancur jernih, yang dengan pasrahnya menjatuhkan tubuh mereka di kolam. Percikan air itu terdengar damai. Sejuk kelihatannya, seperti kristal-kristal yang berjatuhan dan pecah menjadi bulir-bulir indah. Apakah aku seperti itu? Mudah pecah dan hilang?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar