Sejak kejadian tadi sore, aku
tidak bisa menikmati waktu istirahatku dengan maksimal. Mataku sulit terpejam
disaat bintang-bintang mulai padam dan sinar matahari meredup sayup. Otot-otot
tubuhku sulit untuk dilemaskan. Pikiranku pun, sulit dipusatkan pada satu
objek. Benar-benar menyiksa.
Aku
hanya mampu memejamkan mata selama beberapa menit. Tampaknya akan lebih
menyakitkan bila aku terus memaksa seluruh tubuhku sesuai kehendak. Aku
melenggang ke dapur, dapur kost-an tepatnya. Ruang yang kecil, sempit, dan
tidak seindah dengan dapur di restoran tempat kerjaku.
Lemari
kecil itu berdenyit nyaring ketika kubuka pintunya. Nampaknya sudah terlalu
tua, terlihat dari fisiknya yang sudah sangat “klasik”. Lemari kecil yang
dibuat oleh Ayahku… ah, kini sudah menumpu banyak beban hidupku. Kuraih kaleng
susu cair kental yang tersembunyi di dalamnya.
Kugoyangkan perlahan kaleng susu itu.. hmm, sudah hampir habis rupanya.
Lebih baik kuhabiskan malam ini dengan tuntas. Kutuang air ke dalam panci
kecil, dan mulai merebusnya.
Cairan
manis itu mengalir perlahan di tenggorokanku, terasa begitu hangat. Perlahan
kunikmati uapnya yang mengepul di udara, membentuk awan-awan kecil yang
mengapung, dan memudar membentuk semburat, lalu terhempas dan hilang. Sedikit
demi sedikit cairan itu terus mengalir di tenggorokanku yang malang, dan
mendarat di labungku yang mulai menciut. Rupanya perutku juga mulai menagih
isi. Ini waktu yang tidak tepat bung, lebih baik kuhabiskan susu ini, dan
kembali menghempaskan tubuh di ranjang yang sudah lapuk.
Siapa
yang menyangka pagi ini aku bangun terlalu siang? Tunggu, kedengarannya memang
tidak aneh. Ini sudah menjadi rutinitasku setiap hari. Membuka mata disaat
matahari sudah menyorot menembus kelopak mataku. Apalagi semalam aku sedikit
begadang. Hah, wajar saja aku selalu kesiangan.
Turun
dari tempat tidur, aku melangkah menuju dapur (lagi). Kembali kubuka lemari
kecil nan lapuk itu, dan kukeluarkan sebungkus roti tawar di dalamnya. Sebenarnya,
roti ini sudah masuk tanggal kadaluwarsa, tepatnya hari ini. Ah, siapa peduli? Aku
lapar, yang penting perutku kenyang dan tidak merintih-rintih kelaparan.
Di
meja masih tersedia sisa mentega dan kismis. Bukan meses. Kuoles sedikit
mentega di permukaan selembar roti, lalu kutaburkan kismis kecil-hitam-keriput
diatas mentega itu. Aku lipat rotinya, dan mulai menyantapnya.
Hari
ini adalah hari libur. Menghabiskan sarapan dengan santai bukan masalah kan? Bahkan
aku terlalu bingung melakukan pekerjaan yang produktif di hari libur. Apa aku
ke restoran saja? Masa bodoh bertemu bos amatir lagi, yang penting tidak mati
kutu di kost-an. Sendirian.
----oOOo----
“Hei
bodoh, mau apa kau kesini?”
Aku
termangu tepat di depan pintu kaca. Masih dengan menggenggam gagangnya. Apa tadi
dia bilang? Bodoh?
“Maaf,
sepertinya anda amnesia. Nama saya bukan bodoh. Saya Hafni” balasku cuek, namun
berusaha untuk sinis. Sesinis mungkin.
“Hahaha
dasar belagu kau ini! Jangan mentang-mentang umur kita tidak beda jauh, kamu
bisa seenaknya membangkang saya. Saya ini tetap bos kamu!” Dia bekata dengan
lantang. Aku bisa melihat emosinya yang mulai terpancar di wajahnya yang
menyebalkan. Aku hanya meringis, lalu melangkah mendekatinya. Sudah cukup, aku
muak.
Kucondongkan
tubuhku ke tubuhnya, dengan hentakan tiba-tiba, aku mendorong tubuh kekarnya
sekuat mungkin. Dia sedikit terjengkang. Kaget, dan marah. Tentu saja. Pasti dia
seperti itu. “Anda memang bos saya, tapi bukan berarti anda bisa melengserkan
harga diri saya semudah itu. Kau ini laki-laki paling lancang yang pernah
kutemui” Semprotku telak. Bos amatir itu semakin terlihat emosi, napasnya mulai
menderu, wajahnya memerah. Aku senang melihat dia seperti ini. Selevel lebih
rendah dariku.
Aku
mulai malas menghiraukan iblis itu. Sia-sia liburanku kali ini. Kutinggalkan bos
amatir itu, dan pergi ke belakang. Aku butuh tempat untuk menenangkan pikiran. Aku
terlalu cuek dengan semua kebencian dia, rasanya terlalu malas mencari alasan
dari kebencian itu. Pentingkah? Aku hanya butuh uang untuk menyambung hidup. Aku
hanya ingin bekerja dengan baik, dan mendapat penghasilan yang baik pula dari
kerja kerasku. Aku ingin kuat, tegar. Aku ingin diperhatikan. Dipedulikan.
Kutatap
air mancur jernih, yang dengan pasrahnya menjatuhkan tubuh mereka di kolam. Percikan
air itu terdengar damai. Sejuk kelihatannya, seperti kristal-kristal yang
berjatuhan dan pecah menjadi bulir-bulir indah. Apakah aku seperti itu? Mudah pecah
dan hilang?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar