Monolog.. monolog..
Bingung.
Itu urusan seni budaya. dan mungkin disini saya tidak membahas betapa bingungnya menulis sebuah monolog yang jatuhnya tidak deskriptif, bertele-tele, atau mungkin yang lebih parah, curhat.
***
Kejadian ini berawal pagi hari. disaat mentari seharusnya bersinar penuh kehangatan, ceria, dan pemberi semangat hari. atau seharusnya angin berhembus lembut, menyapu debu-debu halus dan menghempaskannya ke udara bebas. embunpun tak ketinggalan, setiap tetes bulir kejernihannya, menyejukkan suasana, mengalir sebening mutiara.
Namun, itulah yang seharusnya.
Seharusnya, bukan nyatanya.
Matahari hanya bersinar alakadarnya. pancaran sinarnya tidak memberi pengaruh apapun. semangat tak berkobar, keceriaan tak tampak, wajah-wajah lesu terpampang di setiap sudut. hembusan anginpun terkesan menghasut, pembawa rasa kantuk. debu-debu mengapung liar di udara, masuk melalui celah mata yang menatapnya. beberapa orang mengusapnya dengan jemari, membersihkan kotoran yang menempel dini hari.
Lalu, apa kabar embun? ia tak terlihat. tak tampak. tetesan beningnya tak terdengar. aliran sejuknya tidak bisa diraba, seolah mati rasa.
***
Langkah kaki terasa seperti beban.
Seandainya aku tidak punya kebutuhan mendesak, mungkin saja sekarang aku hanya berdiam diri di kelas, menatap dinding, dan sesekali menoleh ke arah jam dinding sambil menguap pelan.
Aku menunggu sesuatu. entah itu apa, tapi pada dasarnya setiap orang akan selalu menunggu. dan terkadang kau tidak menyadarinya. menunggu sesuatu yang tak bertuan.. aku sering mengalaminya.
Kembali pada sebuah kebutuhan, aku mencari beberapa orang yang bersedia meminjamkan buku pelajaran kepadaku. sasarannya? tentu saja kakak kelas. lihatlah kesibukan mereka di lantai dua. berbincang ringan, piket kelas, berjalan lewat koridor tanpa permisi, menyenggol yang disebelahnya tanpa meminta maaf, dan beberapa tersenyum simpul, untuk siapapun. yang dikenal maupun tidak kenal.
Aku tidak punya tujuan bertemu siapa hari ini, yang aku perlukan hanya buku itu. sudah lima kepala, jawaban mereka sama. tidak bisa.
Salah satu dari mereka lalu mengusulkan, dia. dia orang yang punya bukunya. tapi tidak untuk sekarang diberi kepadaku.
Esoknya, kuhampiri ia ke kelasnya. kutagih janjinya. dia menyodorkan buku yang mash bagus, tidak terlipat, seperti tidak pernah dibaca dan dipelajari selama satu tahun. aku menggelengkan kepala pelan, lalu mentapnya sambil tersenyum sopan, berterimakasih sesuai porsinya.
Tidak perlu menjabarkan lebih lanjut apa yang terjadi selanjutnya. kau hanya perlu mengetahui siapa dia, identitasnya seperti apa, dan apapun yang ingin kau ketahui tentang dia, mendorong rasa penasaran ini untuk terus bertanya-tanya. itulah yang terjadi selanjutnya padaku, semenjak pertemuan yang tak direncanakan itu.
Benar-benar aneh.. aku sudah lama tidak merasakan hal ini. sensasi dimana saat kau mengusut orang yang tidak kau kenal, lalu berbuat murah hati ketika kau terhimpit. aku tetap bertanya-tanya soal itu. hingga lama kelamaan, rasa penasaran ini terus berkembang, membesar, dan mulai membentuk sesuatu yang lebih membingungkan. pasti kalian pernah merasakannya. terutama untuk para wanita yang sedang mengidolakan seseorang. kau akan tersenyum bila mengingat wajahnya, kau akan menolehkan kepalamu berapapun derajat kau memutarnya, asalkan kau bisa melihat dia dengan jelas. lalu kau memasang wajah sumringah, merona, dan bahagia. kau akan selalu tertawa melihat tingkahnya, meskipun itu bukan suatu hal yang jenaka. kau seolah gila, ketika melihat betapa kerennya sosok ia dimatamu. sungguh surga jika ia memang benar ditakdirkan untukmu. aku merasakan itu semua. namun satu perbedaannya, aku tidak pernah mengidolakan dia.
Aku tidak pernah ingin menjadi wanita pada umumnya. disaat seseorang enggan berbeda, justru aku menginginkan perbedaan itu. aku ingin perbedaan yang bisa membedakanku dengan wanita lainnya. maka dengan itu, ia juga akan melihatku dengan pandangan yang berbeda diantara sekian banyak wanita. aku tidak ingin terkesan meminta. aku ingin porsi kita sama, impas. berbagi setengah porsi untuk rasa ini.
Namun, aku tidak pernah membayangkan betapa sulitnya jika sosok misterius itu menyembunyikan sesuatu yang tidak aku ketahui. sesuatu hal yang bisa membuatku rapuh. dan mungkin mematahkan semua keindahan yang kukhayalkan.
Tuhan memang tak pernah tidur, selalu mendengar keluh kesah hambaNya, menimpa hambaNya dengan cobaan berisi limpahan hikmah, dan aku sedang mengalami praktik langsung atas semua kekhawatiranku. diuji seberapa kuat aku bertahan.
Aku tidak pernah menganggap bahwa sekarang ini aku sedang menghisap madu. semua yang kurasakan ini hanya berpaten pada satu pihak, yaitu diriku sendiri. aku tidak pernah berani membayangkan dia juga merasaknnya, karena bentuk interaksi apapun kita belum pernah melakukannya. kecuali satu, tragedi peminjaman buku. selanjutnyapun berjalan abu-abu.
Menghisap madupun belum, aku sudah harus rela menelan pil pahit. tentu saja aku tidak rela, aku menelannya dengan sudah payah, bahkan mungkin tersedak. rasanya seperti dihantam puluhan palu saat tahu, sosok itu memang menyembunyikan sesuatu.
Sebenarnya, ia tidak menyembunyikan. mungkin hanya aku saja yang tidak berniat untuk mencari sesuatu tentangnya lebih dalam. dan benar, aku sudah terlambat sejak berbulan-bulan yang lalu. aku terlambat, amat terlambat untuk mengisi rongga hatinya, yang hanya cukup untuk dua jiwa. dia, dan perempuan itu, bukan aku.
Sampai sekarang, aku masih belum memahami guaratan-guratan perasaan yang tergambar di hatiku. tak seorangpun memahaminya, termasuk aku. perasaan ini semacam kerelaan yang tak sampai. kira-kira seperti itu. berawal dari rasa penasaran, lalu tumbuh membesar dan subur tanpa bisa dicegah, dan berujung punah dengan kematian yang tak terduga.
Kalau bisa, aku sama seperti wanita lainnya dalam hal ini. ingin segera melupakan sesuatu yang sudah menyakiti... bukan. aku tidak merasa tersakiti, atau bahkan terkhianati. aku hanya kesal karena sebenarnya, hal ini memang jatuh pada momen yang sangat tidak pas. aku sedang menikmati 'perjuangan' dalam misi yang tak bertuan, dalam guratan perasaan yang remang, dan ditujukan untuk sosok yang buram. namun, seseorang datang menghancurkan misiku, lalu membiarkanku dilema di tengah perjalanan.
Aku tidak berniat untuk melupakan rasa ini. karena bila aku hanya menghapus rasa, bisa jadi rasa itu akan tumbuh kembali selagi sepasang mata ini masih dapat melihat raganya. kalau aku berniat menghapus memori, itu pasti sulit. karena rata-rata wanita selalu mematenkan hal-hal indah yang nantinya akan dirawat di dalam memori masing-masing. itu sebabnya, mustahil bagi kalian (wanita) yang mampu melupakan kenangan terindah seluruhnya. aku juga merasakannya, namun aku berusaha meminimalisir itu dengan tidak mengingat-ingat sebuah kenangan. cukup dengan hanya dikenang, tidak untuk diingat-ingat.
Dari seluruh kisah yang sama yang pernah kudengar, baca, atau kulihat, sampai sekarang aku masih belum paham dengan makna dari "berkorban demi cinta". aku yakin, jika memang ada yang seperti itu, dia tidak akan ikhlas sepenuhnya. kecuali jika ia memang sudah 'move on', dan bila sudah seperti itu, kasusnya bukan lagi sebuah pengorbanan. karena sesuatu yang menurutnya sudah dikorbankan untuk orang lain, entah sahabat atau siapapun, sudah bukan 'barang' miliknya lagi. maka siapapun boleh memilikinya karena 'barang' itu memang sudah tidak ada pemiliknya lagi.
Jika memang ada pengorbanan seperti itu, aku ingin mencobanya. tapi bukan demi dia, perempuan itu, atau.. cinta. aku berkorban hanya untuk kedamaian hatiku sendiri, yang sebenarnya aku sendiri belum paham dengan guratan-guratan perasaan yang ada di dalamnya. biarlah semua ini mengalir sebagaimana mestinya. biarkan akarnya memanjang ke arah manapun yang ia suka, hingga kokoh dan mampu menopang batang yang tumbuh membesar dan menebal, cabang-cabang yang menjulur bebas dan memberi ruang para daun untuk merimbun hijau. silahkan rawat sesuai porsinya, tapi jangan pernah membiarkannya mati dengan sengaja.