duluuuu, waktu gua masih TK kayaknya. gua seneng ngedengerin orang cerita. cerita apaan aja dah, gua sok sok ngerti aja #pdhlmahkaga-_- cerita yang paling gua suka dulu tuh judulnya "susu segar wati" wkwk sampe skrg gua masih suka ngakak kalo nginget judulnya lagi. tapi asli, itu cerita dulu berasa seru banget. jadi tuh ceritanya gini, ada anak namanya wati, tiap pagi dia suka minum susu sapi. rasanya segaaaaaaaaar sekali *okeitulebay* tapi ya kira-kira begitu isinya. oiya, gua jg sering ngebacain cerita itu buat adek gua. adek gua ketagihan juga dibacain cerita itu, ampe diulang-ulang terus! dan egoknyaaa, yang ngebacain juga gabosen-bosen masa-__- wk tapi ya nama juga bocah. ye gak ye gak? ;)
Sabtu, 18 Februari 2012
fotoooo
blog gua udah banyak sarang laba-labanya nih -__- numpang masang foto aja deh. soalnya gua lagi ga pengen ngepost macem-macem
nah, ini editan gua fotonya. jelek ya? wkwk maap ye, kan masih amatiraaan. liat yang ini lagi deh
udah dulu deh ya narsisnya. wkwk #maapgajelas
nah, ini editan gua fotonya. jelek ya? wkwk maap ye, kan masih amatiraaan. liat yang ini lagi deh
cerpen kakaaaa
cintaku pada mereka
langit masih anggun dengan warna biru kehitam-hitaman.
Awanpun nampaknya masih malu-malu untuk muncul. Sebaran awan tampak seperti
kapas-kapas jarang. Aku sendiri sibuk dengan segala perbekalan. Mengawali hari
dengan tradisi wajib semua pelajar : sekolah.
Sekitar jam enam kurang, aku siap berangkat. Menumpang
boncengan dengan kakakku. Dulu, aku lebih minat naik angkutan umum ke sekolah.
Kesannya aku lebih dewasa. Lambat laun aku sadar, ternyata ongkosnya boros juga
untuk remaja SMP yang bersaku pas-pasan sepertiku.
Usai mengucap salam, aku dan kakakku meluncur ke tempat
tujuan. Sekitar lima belas menit aku sampai. Kakakku biasa menurunkanku di
depan jalan menuju sekolahku saja. Tidak sampai gerbang. Terpaksa aku harus
jalan kaki, Atau naik becak. Prinsipku sama, lebih hemat lebih baik. Tanpa
mengurangi isi saku, aku berjalan dengan riang menuju sekolah. Udara masih
sangat sejuk untuk dihirup. Apalagi langit terlihat kejinggaan, tentram sekali
rasanya untuk dipandang. Belum lagi disisi jalan banyak dijumpai bunga-bunga
atau tanaman indah yang terlihat masih segar. Tidak jarang aku iseng
memetiknya. Dan membawa bunga tersebut sampai ke sekolah. Lalu kubuang ketika
sudah layu.
Sampai sekolah, dengan semangat aku kunjungi kelasku.
Beberapa teman menyapaku. Aku balas dengan senyuman dan anggukan. Atau membalas
kembali sapaan mereka yang beragam. Rasanya senang ketika mereka peduli
terhadapku. Pagi itu, bibirku tak henti-hentinya mengulas senyum gembira.
Kelas masih sangat sepi. Baru sekitar tiga orang yang datang.
Aku termasuk urutan ketiga yang menampakkan batang hidung di kelas. Setelah
menyimpan tas, aku mengambil buku bacaan favoritku. Lalu keluar kelas, hanya
sekedar mengobrol dengan kawan. Memang sulit rasanya bila harus membaca sambil
berbincang dengan teman, tapi aku sangat menikmatinya. Meskipun di jam
berikutnya aku harus mengulang bacaanku lagi. Karena rasanya aku belum nyambung
dengan jalan cerita di novelku.
Pada saat masuk jam pelajaran, antara mood yang bagus dan
tidak tercampur aduk. Antara semangat dan loyo aku rasakan sendiri didiriku.
Demi ilmu yang berharga, aku berjuang melawan kantuk yang menyerang di
sela-sela pelajaran. Disaat seperti inilah aku lengah. Tapi disaat seperti ini
juga aku mendapat pelajaran berharga.
Di kelas, aku termasuk siswi yang cerewet. Bahkan beberapa
anak laki-laki mencapku sebagai anak perempuan yang galak. Aku terima penilaian
mereka dengan senang hati, aku anggap itu semua adalah kelebihanku. Meskipun
terkadang hal-hal menyakitkan sering mereka ungkapkan untukku, entah
terang-terangan, atau di belakang. Aku tetap terima apa adanya.
Sulit bagiku menemukan teman yang “tetap” atau sahabat yang
sifatnya permanen. Aku selalu bisa menarik siapa saja untuk hanyut dalam
kehidupanku. Tapi entah kenapa aku selalu kesulitan jika harus berbaur dengan
hidup mereka. Aku tipe anak yang cepat bosan. Bahakan aku akui kekuranganku,
aku cepat melepas mereka bila bertemu dengan yang baru. Tapi, bukan berarti aku
ingin kehilangan mereka, aku hanya belum sempat mengungkapkan semua kecintaanku
pada mereka, ketika aku harus berbagi cinta dengan yang lain pula.
Teman sepermainanku awalnya hanya berempat. Lalu masuk
anggota baru dengan jumlah dua orang. Genaplah menjadi enam orang termasuk aku.
Awalnya mungkin aku agak keberatan, tapi mungkin semua ini jalan yang terbaik
dari Tuhan.
Semakin terulurnya waktu, kami semakin lengket dengan
berbagai pengalaman dan derai tawa yang kami alami bersama. Aku tidak menyesal
berteman dengan mereka, bahkan aku sanggup untuk bersumpah bahwa aku tidak akan
pernah menyesal menjadi teman mereka.
Namun, semakin ke depan, aku merasakan sesuatu hal yang untuk
pertama kalinya aku merasakan hal ini. Rasanya sangat aneh, perpaduan antara
bingung dan jenuh. Bingung karena harus menamainya apa tentang rasa ini, dan
jenuh dengan semua yang aku alami bersama mereka. Aku jenuh dengan semua hal
yang kami lakukan. Kami selalu melakukannya bersama, bahkan hanya untuk ke
toilet pun kami seakan seperti perangko dengan suratnya. Serasa tidak ingin
lepas. Aku merasakan sensasi yang menurutku sangat membosankan. Aku ingin
mencari suasana baru, yang lebih menantang. Aku tidak berniat meninggalkan
mereka, hanya ingin “merantau” sementara ke pulau persahabatan lainnya yang
lebih mengesankan. tapi bukan berarti pengalamanku dengan mereka tidak
mengesankan.
Aku berhasil mendapatkannya. Lembar-lembar pengalaman terbaru
aku mulai dengan suka cita. Tapi bukan berarti aku dapat dengan mudah mendepak
teman-teman lamaku yang masih sangat kucintai. Aku masih sempat bertemu mereka,
berkumpul dengan mereka, meski tidak selengket dulu, perangko dengan suratnya.
Berlembar-lembar dokumen persahabatan aku simpan dan selalu
kukenang dalam ingatanku. Membuatku selalu tersenyum jika membayangkannya.
diriku seakan ingin memutar ulang dokumen lamaku itu, dan mengecap kembali cita
rasa kebahagiaan yang pernah kualami.
Kini, dokumen persahabatanku sudah terkumpul banyak. Sahabat
lamaku tentu menduduki urutan pertama dalam dokumen tersebut. Aku tidak akan
pernah lupa dengan kenangan manis mereka. Sungguh indah bila dibayangkan,
rasanya seperti meluapkan kegembiraan dan kerinduan yang selama ini terpendam.
Banyak sekali pengalaman yang aku rasakan, mulai dari tertawa bersama, menangis
bersama hanya karena masalah sepele, ataupun masalah yang benar-benar besar,
hingga sampai ke permusuhan.
Yang sering kualami adalah permusuhan yang bila
dibayangkan dengan akal jernih hanya
karena masalah kecil, bahkan sangat kecil untuk ditetapkan dalam status
permusuhan. Terutama hal cowok yang disukai. Salah satu dari kami memang sangat
sensi untuk masalah yang satu ini, bahkan aku mengalami sendiri kesensiannya.
Temanku tidak mau membuka mulut untukku selama tiga bulan hanya karena ia
mengira aku menyukai cowok yang ia sukai. Padahal kenyataannya salah besar. Aku
dan cowok yang temanku sukai hanya bertanding tenis meja disekolah, walau di
sela-sela permainan kami sempat bercanda, mungkin hal inilah yang menjadi
persoalan besar bagi temanku. Gejolak cemburu yang sangat hebat mungkin yang ia
rasakan saat itu. Aku mengerti perasaanya, dan berkali-kali aku mengungkapkan
permohonan maafku padanya, tapi rasanya itu sangat kurang ditelinganya.
Omonganku dianggap angin lalu yang terbuang. Hingga sampai pada akhirnya aku
menyerah dan tutup mulut, walau jujur aku akui, aku sangat sedih dan sakit
hati. Tapi aku berusaha untuk tegar dan bersabar.
Kala itu, aku seperti kehilangan benda yang amat berharga
untuk selama-lamanya. Aku harap itu bukanlah pertemanan yang harus aku akhiri
saat itu juga.
Bertahun lamanya, konflik itu makin lama makin banyak yang
aku alami. Aku bingung harus bagaimana, seperti apa, untuk terlihat sempurna
atau jadi yang mereka inginkan. Sungguh tidak adil, kenapa harus aku saja yang
mengalami ini ? kenapa bukan salah satu dari mereka saja?
Cukup! Aku sudah mengalami hal yang paling sulit. Semua
kejadian itu telah merusak dokumenku. Dokumen yang amat berharga, dokumen
persahabatan.
Langganan:
Postingan (Atom)

