Selasa, 25 Desember 2012

Hening

Hening. 
bisikan perlahan suara jiwaku. 
terbangkan bersama angin.
mengalun lembut setiap detiknya.
membelah langit biru yang terhampar Mahaluas.
mengajak rerumputan menari,
menggugurkan dedaunan di jalan basah.

Hening.
Akankah terus seperti ini?
menghiasi setiap malamku.
tergantung di langit-langit berdebu.
merasuki pikiran yang tabu.
hati bagaikan terdampar.
pasrah terseret arus, terhempas..

Hening.
Kapan ini berakhir?
dikala hati sulit berontak.
jiwa tak tegar lagi menopang beban.
rapuh mulai menyerbu.
hingga bangkitpun tak mampu.

Hening.
Aku tak ingin selalu kesepian.
hampa menghantui setiap langkah ini.
otak tak mampu lagi bekerja.
berpikir, mencari solusi.
Tapi, apa hasilnya?

Hening..
untuk kesekian kalinya kau mendampingiku.
mengosongkan ruang hatiku.
memperlebar kehampaan di jiwa.
kuharap masih ada kesempatan untuk mereka.
yang ingin mengisi kekosongan.
dan mengobati luka kehampaan..

Kamis, 20 Desember 2012

Puncak With OWL Crew!

Ekhm! *benerin dasi*

Sebelum postingan ini dimulai, gua mau bertengkyu-tegkyu ria buat Allah SWT. terimakasih karena Engkau masih memberikan kesempatan hidup pada hambaa. lelah sekali rasanya bergulat dengan soal-soal UAS yang biadaap -___-

Oke oke. skip dulu curhatnya. sesi kali ini, gua mau bahas tentang keceriaan. dukanya dipendam aja dulu ;)
Nah, kalian masih ingat kan pensi smanti yang keren-super-WOW itu? yup! OWL TRANSITION! yang penontonnya bejubel abis, bagaikan cendol-cendol yang menggeliat..
Jadi rindu masa-masa perjuangan owl crew. dari rapat sampai larut, ngejar-ngejar sponsor, bergulat dengan deadline, sampai akhirnya berhasil mendaki puncak kemenangan. benar-benar berkesan.

Setelah berhasil mencapai puncak, saatnya dihadapi dengan berbagai macam ujian yang menguras pikiran, tenaga, dan waktu. berkutat dengan buku, soal, tugas, remedial.. sebenarnya gua agak males menyebut kata terkutuk yang terakhir itu. sia-sia hidup gue cuma buat remedial.
Baru sekali seumur hidup, gua UAS selama 2 minggu! err.. sebenarnya ga dua minggu sih, tepatnya delapan hari. tapi jatah harinya dipisah 4 hari 4 hari dalam dua minggu. benar-benar menyita waktu. libur dari hari jum'at, sabtu, dan minggu membuat hidup gua menjadi semakin kurang produktif.

Setelah puas teraniaya selama 2 minggu, ternyata kakak-kakak owl crew baik banget ya. mereka ngajak kita liburan di puncak. sebenarnya sih belum waktunya liburan ya.. tapi, ah sudahlah. abaikan sekolah! wks~
Oke lanjoooot!
Tepat tanggal 17 desember, hari senin, kita caw dari smanti. katanya sih cawnya jam sembilan, tapi.. yaah biasalah, jam indonesia kan kayak karet kolor, alias molor semua. berangkat jam sembilan, padahal nyerempet lagi jadi jam sepuluh. kelakuan..

Jasa transportasi yang digunakan adalah mini bus. yah, not bad lah, yang penting masih bisa duduk plus ada AC-nya. meskipun cuma make AC LG alias Angin Cepoi-cepoi Luar Gendela (jendela).
Sepanjang perjalanan, gua hanya bisa termenung menatap keindahan alam yang luar biasa indahnya. terbentang.. terjulang.. terburai.. #apasih
Maaf, tadi hanya fiksi belaka. faktanya, sepanjang perjalanan gua cuma baca buku, bengong, tidur. sesekali juga dengerin lagu lewat headseat. tapi itu juga menang minjem.

Gua gak tau ya, perjalanan kita menghabiskan waktu berapa jam. intinya, kita selamat walafiat nyampe disana. oh iya, belum gua kasih tau ya kita nginep dimana. kita nginep di puncak gunung salak... err.. gak deng boong -_- kita nginep di villa hijau temaan ;) tempatnya cukup nyaman kok. pemandangannya asri, kamarnya bersih, kasurnya empuk, ada jendelanya, ada pintunya.. #yaiyalah-_-

Dan, alhamdulillahnya, gua dapet kamar yang lumayan luas buat 7 orang. kasurnya ada tiga, satu kasur bisa muat 3 orang. ada lantai tambahannya pula. maksudnya lantai tambahan, jadi ada lagi lapak diatas, yang isinya cuma kasur doang. dan sialnya, karena keistimewaan lapak tersebut, justru malah dijadikan markas anak cowok. kebayang kan, satu kamar isinya segerombol cowok dan segerombol cewek. masing-masing punya mulut yang cablak, apalagi ceweknya. ya bisa dibayanginlah, berisiknya udah kayak pasar kemiri digrebek satpol pp.

Habis rehat sejenak dan makan-makan, dimulailah games yang pertama. gua lupa nama permainannya. tapi, gua bakal namain games ini sesuai dengan persepsi sendiri. nama gamesnya "ayunkan terongmu!". jadi, games ini diawali dengan mengikat tali rafia dipinggang anda, sementara tali rafia tersebut sudah digantungi sebuah terong unyu nan panjang. fungsi terongnya itu apa ya? nah, 'gantungan terong' ini berfungsi sebagai alat pemukul balon yang ada di depan kita. jadi, tujuan dari games ini adalah, berlomba-lomba membawa balon sampai garis finish dengan memukulnya menggunakan gantungan terong tersebut. kalau lo liat cara mainnya, gua yakin ekspresi lo absurd abis. gimana enggak, selain gerak tubuhnya yang 'agak menjijikan', sorak-sorai penonton juga terdengar biadab sekali.
"Awas tuh terongnya ketukeer.. haha"
"Sukanya mainin balon pake terong nih.. hahaha"
Agak ambigu memang -_-  jadi.. beruntunglah kalian yang polos dan tidak mengerti apa-apa terkait perkataan tadi. kalau gak polos, minimal pura-pura polos. ya toh?

Selesai games absurd tadi, kita langsung cebur-ceburan di kolam renang. seru bangettt sumpaaah! kebetulan lagi hujan juga, makin rame suasanya. ada yang berenang, main bola, dan lain-lain. anak cewek rebutan bola sama anak cowok, pokoknya rusuh abis. karena bosan berendem mulu di kolam, anak cewek akhirnya main benteng. sebenarnya ada alasan lain juga kenapa kita ganti jadi main benteng. kolam renangnya dikotorin sama anak cowok!
Udah puas main benteng, kita berniat untuk balas dendam. akhirnya dengan semangat 45, baju belepotan lumpur dan muka cemong-cemong, kita semua langsung terjun ke kolam. anak cowok langsung pada nyorakin. alhasil, kolamnya jadi keruh gitu, jadilah kolam lumpur!

Setelah itu, kita mandi.walaupun agak ngantri, tapi akhirnya gua kebagian mandi juga. sehabis itu kita sholat, terus ngerem di kamar.. jujur ya, sebenarnya cuma kelompok gua doang yang suka mengurung diri di kamar #kayaknya. macam-macam kelakuannya. curhatlah, gila-gilaan, ngemil, mainin bantal, mainin seprai.. asal jangan main hati aja ya *eh.

Nah, menjelang malam, kita bener-bener memanfaatkan.. sebenarnya kurang masuk akal kalau dibilang memanfaatkan. maaf nih ya, kalau menurut ane kayaknya agak menyia-nyiakan waktu aja. kita main games, dan ternyata benar-benar free. di ruang tengah lagi seru-seruan main jujur-jujuran, entah apa namanya. sedangkan gue? sesuai hukum rutinitas dan kebiasaan, apalagi kalau gak bertelor di kamar.
Entah kenapa kamar tersebut punya daya tarik layaknya magnet yang selalu membujuk gua untuk selalu menempel disana. disaat kayak gini, gua tau saat itu memang merupakan zona yang sangat nyaman buat gue. kebetulan dominan temen-temen sekamar gua pada jomblo. entah hubungannya apa, saya sendiri sulit menafsirkannya.
Meskipun gua terperangkap dalam zona nyaman, ternyata penyiksaan juga turut menyusup dalam kenyamanan yang gua rasakan. apa penyiksaan itu? satu kata: LAPAR. gua belum makan malam... semuanya juga belum sih, sungguh terlalu memang. jatah snack gua udah abis, kepala mules, perut senat-senut, hidung belekan, mata ingusan. karena gua dan teman-teman gak mau menghabiskan malam dengan berlapar ria, alhasil kita langsung matiin lampu, narik selimut, dan tidur. iya, tidur. satu-satunya jalan penghilang virus lapar.

Sedang asyik-asyiknya bermimpi, menggeliat, dan mendengkur, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar. dan tanpa permisi, seseorang menongolkan batang hidungnya ke dalam kamar kita yang gelap gulita. dia membangunkan kita semua tanpa rasa prihatin sedikitpun. akhirnya dengan dongkolnya gua bangun dengan iler berceceran di lantai...

Singkat cerita, ternyata kita dikasih jatah makan malam. alhamdulillah, akhirnya  perut gue gak meringkik kelaparan lagi. kita bakar ayam, bakar jagung, sosis, rumah.. enggak deng, yang terakhir itu pasti gak nyata ya -_-
Habis itu, ada games lagi yang seru gokil ayan.. games berdandan. bayangkan jika anda didandani dengan mata tertutup! jangankan terlihat cantik, justru anda lebih tepat dijadikan pemeran utama film horror.
Habis games, ada sesi tukeran kado. naah! ini dia yang gua tunggu-tunggu. sebenarnya agak galau juga sih kalau ngomongin soal kado. ini terkait harga. menurut informasi yang gua dengar dari awal, harga kado minimal 10rb. pas di sms, tiba-tiba berubah wujud menjadi maksimal 10rb. harusnya gua bisa tersenyum bahagia mendengar kabar baik tadi, sekiranya gua bisa nyium bokap nyokap karena senang akhirnya dompet gue gak jadi seret. dan sepantasnya gua bisa mengirit uang jajan gue. tapi ternyata... impian gue benar-benar fiktif belaka. karena gua udah terlanjur beli kadonya dengan peraturan harga MINIMAL 10rb. it's so kampret you know???!!

Balik ke cerita gue. sebenarnya gua ikhlas-ikhlas aja ngasih kado yang emang sengaja gua beli agak bagusan. entah kenapa hati gua lagi pengen nyenengin orang aja. dan pada saat udah kebagian kado masing-masing, betapa bahagianya gue karena dapet kado yang benar-benar sesuai harapan. lalu, tanpa disangka-sangka orang yang menerima kado dari gua juga sangat senang. oh, Alhamdulillah, Terimakasih Allah, lagi-lagi nikmatMu memang sungguh luar biasa! :)

Seusai tukeran kado, akhirnya kita diperbolehkan untuk terlelap. dan gua menjadi orang yang pertama bangun... di kamar gue-_- sempet-sempatnya gua nonton tv, dan ternyata owl crew itu pada seneng nyusahin emak ya, lagi-lagi kita main lumpur layaknya artis sabun rinso. dan lagi-lagi gua mengantri untuk mandi. sekiranya gua cukup lelah dengan semua ini.. #keluardehjiwacurcolnya.

Udah bersih, udah wangi, udah manis, kita diperbolehkan menyantap sarapan. lalu, seperti biasa ada waktu senggang yang lumayan. sepanjang waktu kosong tersebut, gua habiskan dengan bernarsis ria, minjem hp orang, sms-an, sampai akhirnya ketiduran. nice.
Jam setengah duabelas kita packing buat pulang. sebelumnya, seperti sudah menjadi ritual umat manusia, kita mendadak jadi banci kamera. memang kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan. betul?

Sepanjang perjalanan pulang gua cuma tidur aja. jadi, gak ada lagi yang bisa gua ceritakan. oke deh, sekian dulu kisah gua kali ini. maaf kalau garing, gua cuma pengen cerita kok ^^ bye~
*dokumentasi menyusul ya. mihihi*


Jumat, 14 Desember 2012

Memaafkan setelah disakiti. Mampukah? (part 2)


              Sejak kejadian tadi sore, aku tidak bisa menikmati waktu istirahatku dengan maksimal. Mataku sulit terpejam disaat bintang-bintang mulai padam dan sinar matahari meredup sayup. Otot-otot tubuhku sulit untuk dilemaskan. Pikiranku pun, sulit dipusatkan pada satu objek. Benar-benar menyiksa.
                Aku hanya mampu memejamkan mata selama beberapa menit. Tampaknya akan lebih menyakitkan bila aku terus memaksa seluruh tubuhku sesuai kehendak. Aku melenggang ke dapur, dapur kost-an tepatnya. Ruang yang kecil, sempit, dan tidak seindah dengan dapur di restoran tempat kerjaku.
                Lemari kecil itu berdenyit nyaring ketika kubuka pintunya. Nampaknya sudah terlalu tua, terlihat dari fisiknya yang sudah sangat “klasik”. Lemari kecil yang dibuat oleh Ayahku… ah, kini sudah menumpu banyak beban hidupku. Kuraih kaleng susu cair kental yang tersembunyi di dalamnya.  Kugoyangkan perlahan kaleng susu itu.. hmm, sudah hampir habis rupanya. Lebih baik kuhabiskan malam ini dengan tuntas. Kutuang air ke dalam panci kecil, dan mulai merebusnya.
                Cairan manis itu mengalir perlahan di tenggorokanku, terasa begitu hangat. Perlahan kunikmati uapnya yang mengepul di udara, membentuk awan-awan kecil yang mengapung, dan memudar membentuk semburat, lalu terhempas dan hilang. Sedikit demi sedikit cairan itu terus mengalir di tenggorokanku yang malang, dan mendarat di labungku yang mulai menciut. Rupanya perutku juga mulai menagih isi. Ini waktu yang tidak tepat bung, lebih baik kuhabiskan susu ini, dan kembali menghempaskan tubuh di ranjang yang sudah lapuk.
                Siapa yang menyangka pagi ini aku bangun terlalu siang? Tunggu, kedengarannya memang tidak aneh. Ini sudah menjadi rutinitasku setiap hari. Membuka mata disaat matahari sudah menyorot menembus kelopak mataku. Apalagi semalam aku sedikit begadang. Hah, wajar saja aku selalu kesiangan.
                Turun dari tempat tidur, aku melangkah menuju dapur (lagi). Kembali kubuka lemari kecil nan lapuk itu, dan kukeluarkan sebungkus roti tawar di dalamnya. Sebenarnya, roti ini sudah masuk tanggal kadaluwarsa, tepatnya hari ini. Ah, siapa peduli? Aku lapar, yang penting perutku kenyang dan tidak merintih-rintih kelaparan.
                Di meja masih tersedia sisa mentega dan kismis. Bukan meses. Kuoles sedikit mentega di permukaan selembar roti, lalu kutaburkan kismis kecil-hitam-keriput diatas mentega itu. Aku lipat rotinya, dan mulai menyantapnya.
                Hari ini adalah hari libur. Menghabiskan sarapan dengan santai bukan masalah kan? Bahkan aku terlalu bingung melakukan pekerjaan yang produktif di hari libur. Apa aku ke restoran saja? Masa bodoh bertemu bos amatir lagi, yang penting tidak mati kutu di kost-an. Sendirian.

----oOOo----
               

               “Hei bodoh, mau apa kau kesini?”
                Aku termangu tepat di depan pintu kaca. Masih dengan menggenggam gagangnya. Apa tadi dia bilang? Bodoh?
                “Maaf, sepertinya anda amnesia. Nama saya bukan bodoh. Saya Hafni” balasku cuek, namun berusaha untuk sinis. Sesinis mungkin.
                “Hahaha dasar belagu kau ini! Jangan mentang-mentang umur kita tidak beda jauh, kamu bisa seenaknya membangkang saya. Saya ini tetap bos kamu!” Dia bekata dengan lantang. Aku bisa melihat emosinya yang mulai terpancar di wajahnya yang menyebalkan. Aku hanya meringis, lalu melangkah mendekatinya. Sudah cukup, aku muak.
                Kucondongkan tubuhku ke tubuhnya, dengan hentakan tiba-tiba, aku mendorong tubuh kekarnya sekuat mungkin. Dia sedikit terjengkang. Kaget, dan marah. Tentu saja. Pasti dia seperti itu. “Anda memang bos saya, tapi bukan berarti anda bisa melengserkan harga diri saya semudah itu. Kau ini laki-laki paling lancang yang pernah kutemui” Semprotku telak. Bos amatir itu semakin terlihat emosi, napasnya mulai menderu, wajahnya memerah. Aku senang melihat dia seperti ini. Selevel lebih rendah dariku.
                Aku mulai malas menghiraukan iblis itu. Sia-sia liburanku kali ini. Kutinggalkan bos amatir itu, dan pergi ke belakang. Aku butuh tempat untuk menenangkan pikiran. Aku terlalu cuek dengan semua kebencian dia, rasanya terlalu malas mencari alasan dari kebencian itu. Pentingkah? Aku hanya butuh uang untuk menyambung hidup. Aku hanya ingin bekerja dengan baik, dan mendapat penghasilan yang baik pula dari kerja kerasku. Aku ingin kuat, tegar. Aku ingin diperhatikan. Dipedulikan.
                Kutatap air mancur jernih, yang dengan pasrahnya menjatuhkan tubuh mereka di kolam. Percikan air itu terdengar damai. Sejuk kelihatannya, seperti kristal-kristal yang berjatuhan dan pecah menjadi bulir-bulir indah. Apakah aku seperti itu? Mudah pecah dan hilang?

Kamis, 13 Desember 2012

Minggu, 09 Desember 2012

Memaafkan setelah disakiti. mampukah? (part 1)

“Hentikan! Kau merusaknya!”
                Aku menoleh cepat ke arah sumber suara. Mataku berputar menatap sosok itu. Sosok yang elegan, namun mengerikan. Sosok itu tegap berdiri, hanya berjarak beberapa meter dariku. Tanpa berkedip, aku menatap langkahnya yang kini mendekat ke arahku. Hentakan kakinya begitu angkuh, elegan, dan tentu saja. Mengerikan.
                “Kau masukkan sampah apa dalam kuali itu?!” terjangnya nanar.
                “Aku tidak memasukkan sampah!” kilahku. Dia kembali menatap dengan sorot mata yang tajam. Tatapan elangnya itu membuatku sedikit ciut.
                “Sekali lagi kau masukkan itu, aku takkan pernah segan untuk memaksamu angkat kaki dari tempat ini. Camkan!” dia mengancamku disertai dengan tinju di lengannya. Yah, klasik sekali cara mengancamnya.
                “Baiklah” jawabku cuek. Aku melengos dari hadapannya, ia hanya bisa melihatku sinis. Kesal mungkin bocah ingusan sepertiku tidak menghiraukan kewibawaannya, yang menurutku masih selevel dengan satpam sekolah.
                Aku melenggang santai menuju dapur belakang. Heran. Baru seminggu aku bekerja, adaa saja yang dipermasalahkan oleh bosku yang sok galak tadi. Memangnya dia siapa? Memarahiku, atau lebih tepatnya mencaci, dengan entengnya memanggilku jongoslah, babu, pembokat, atau apalah itu yang menurutku sangat merendahkan. Orang tuaku saja tidak pernah tega memanggilku seperti itu. Sekalipun aku pernah membuat mereka marah, tapi mereka tidak akan mau, lebih tepatnya tidak akan pernah mengeluarkan kata-kata kotor itu untukku. Lalu, maksud bos yang sok Maha berkuasa itu apa sih, memanggilku dengan sebutan rendah itu? Dasar bos amatiran. Karbitan.
                Yeah. Sekarang aku di dapur. Sendirian. Aku lebih suka keadaan seperti ini. Sepi. Hening. Cocok menenangkan pikiran yang sedari tadi menjalar kemana-mana. Sungguh memusingkan. Mataku berputar menyapu sekeliling. Lihat dapur ini. Bagus sekali, tatanannya rapih. Dapur rumahku tidak akan pernah seperti ini. Bersih, rapih, harum.. jangan harap kau bisa menemukan noda coklat yang menempel di dinding keramik mengkilap itu. Dan lantainya.. oalaa, tentu saja kau bisa bercermin menatap pantulan wajahmu di keramik putih itu.
                “Sedang apa kau disini?”
                Aku terhentak, tersadar dari lamunan. Buru-buru aku palingkan wajah, mencari ke arah sumber suara. Hah, lagi-lagi dia, si bos amatir. Pasti mau menyemprotku lagi.
                “Sudah kerja tidak becus, masih sempat-sempatnya saja melamun di dapur. Lebih baik kau pulang daripada harus menganggur! Nyampah saja!” nah, benar kan? Sudah kuduga.
                Aku tidak langsung pergi dari hadapannya. Diam berdiri menatapnya sesaat, seandainya mataku bisa memandang menerobos ke dalam dadanya, lalu kuintip hatinya, pasti hatinya sudah beku. Hitam. Legam. Yaks, membayangkannya saja sudah membuatku jijik.
                “Kamu tuli ya?! Sudah kubilang pulang saja! Kenapa malah ngeliatin saya?!”
                Ah, sudahlah. Aku pusing mendengar celotehannya. Andai saja dia tahu semuanya…
                “Sudah untung saya nerima kamu kerja disini, harusnya kamu bisa hargai itu! Bukan malah menyia-nyiakannya!” Dia tidak berhenti untuk meracau. Kepalaku semakin pening. Entah sampai kapan dia seperti ini, mungkin selamanya.
                Kuseret langkah meninggalkan ruangan pujaanku, namun semua terlihat rusak dalam pandangan sejak bos amatir itu datang. Mengapa dia selalu datang untuk merusak keadaan?

Maroon 5 - One More Night

You and I go hard, at each other like we going to war
You and I go rough, we keep throwing things and slammin' the door
You and I get so, damn dysfunctional we stopped keeping score
You and I get sick, yah I know that we can't do this no more

But baby there you again, there you again making me love you
Yeah I stopped using my head, using my head let it all go
Got you stuck on my body, on my body like a tattoo
And now i'm feeling stupid, feeling stupid crawling back to you
So I cross my heart, and I hope to die, that I'll only stay with you one more night
And I know I said it a million times
But i'll only stay with you one more night

Trying to tell you no, but my body keeps on telling you yes
Trying to tell you stop, but your lipstick got me so out of breath
I'd be waking up, in the morning probably hating myself
And i'd be waking up, feeling satisfied but guilty as hell

But baby there you go again, there you go again making me love you
Yeah I stopped using my head, using my head let it all go
Got you stuck on my body, on my body like a tattoo
And now i'm feeling stupid, feeling stupid crawling back to you
So I cross my heart, and I hope to die, that i'll only stay with you one more night
And I know i've said it a million times
But i'll only stay with you one more night

Yeah baby give me one more night
Yeah baby give me one more night
Yeah baby give me one more night

But baby there you again, there you again making me love you
Yeah I stopped using my head, using my head let it all go
Got you stuck on my body, on my body like a tattoo
Yeah, yeah, yeah, yeah

So I cross my heart, and I hope to die, that i'll only stay with you one more night
And I know i've said it a million times
But i'll only stay with you one more night

(yeah baby give me one more night)

So I cross my heart, and I hope to die, that i'll only stay with you one more night
And I know i've said it a million times
But i'll only stay with you one more night

(I don't know, whatever...)

Jumat, 07 Desember 2012