Minggu, 09 Desember 2012

Memaafkan setelah disakiti. mampukah? (part 1)

“Hentikan! Kau merusaknya!”
                Aku menoleh cepat ke arah sumber suara. Mataku berputar menatap sosok itu. Sosok yang elegan, namun mengerikan. Sosok itu tegap berdiri, hanya berjarak beberapa meter dariku. Tanpa berkedip, aku menatap langkahnya yang kini mendekat ke arahku. Hentakan kakinya begitu angkuh, elegan, dan tentu saja. Mengerikan.
                “Kau masukkan sampah apa dalam kuali itu?!” terjangnya nanar.
                “Aku tidak memasukkan sampah!” kilahku. Dia kembali menatap dengan sorot mata yang tajam. Tatapan elangnya itu membuatku sedikit ciut.
                “Sekali lagi kau masukkan itu, aku takkan pernah segan untuk memaksamu angkat kaki dari tempat ini. Camkan!” dia mengancamku disertai dengan tinju di lengannya. Yah, klasik sekali cara mengancamnya.
                “Baiklah” jawabku cuek. Aku melengos dari hadapannya, ia hanya bisa melihatku sinis. Kesal mungkin bocah ingusan sepertiku tidak menghiraukan kewibawaannya, yang menurutku masih selevel dengan satpam sekolah.
                Aku melenggang santai menuju dapur belakang. Heran. Baru seminggu aku bekerja, adaa saja yang dipermasalahkan oleh bosku yang sok galak tadi. Memangnya dia siapa? Memarahiku, atau lebih tepatnya mencaci, dengan entengnya memanggilku jongoslah, babu, pembokat, atau apalah itu yang menurutku sangat merendahkan. Orang tuaku saja tidak pernah tega memanggilku seperti itu. Sekalipun aku pernah membuat mereka marah, tapi mereka tidak akan mau, lebih tepatnya tidak akan pernah mengeluarkan kata-kata kotor itu untukku. Lalu, maksud bos yang sok Maha berkuasa itu apa sih, memanggilku dengan sebutan rendah itu? Dasar bos amatiran. Karbitan.
                Yeah. Sekarang aku di dapur. Sendirian. Aku lebih suka keadaan seperti ini. Sepi. Hening. Cocok menenangkan pikiran yang sedari tadi menjalar kemana-mana. Sungguh memusingkan. Mataku berputar menyapu sekeliling. Lihat dapur ini. Bagus sekali, tatanannya rapih. Dapur rumahku tidak akan pernah seperti ini. Bersih, rapih, harum.. jangan harap kau bisa menemukan noda coklat yang menempel di dinding keramik mengkilap itu. Dan lantainya.. oalaa, tentu saja kau bisa bercermin menatap pantulan wajahmu di keramik putih itu.
                “Sedang apa kau disini?”
                Aku terhentak, tersadar dari lamunan. Buru-buru aku palingkan wajah, mencari ke arah sumber suara. Hah, lagi-lagi dia, si bos amatir. Pasti mau menyemprotku lagi.
                “Sudah kerja tidak becus, masih sempat-sempatnya saja melamun di dapur. Lebih baik kau pulang daripada harus menganggur! Nyampah saja!” nah, benar kan? Sudah kuduga.
                Aku tidak langsung pergi dari hadapannya. Diam berdiri menatapnya sesaat, seandainya mataku bisa memandang menerobos ke dalam dadanya, lalu kuintip hatinya, pasti hatinya sudah beku. Hitam. Legam. Yaks, membayangkannya saja sudah membuatku jijik.
                “Kamu tuli ya?! Sudah kubilang pulang saja! Kenapa malah ngeliatin saya?!”
                Ah, sudahlah. Aku pusing mendengar celotehannya. Andai saja dia tahu semuanya…
                “Sudah untung saya nerima kamu kerja disini, harusnya kamu bisa hargai itu! Bukan malah menyia-nyiakannya!” Dia tidak berhenti untuk meracau. Kepalaku semakin pening. Entah sampai kapan dia seperti ini, mungkin selamanya.
                Kuseret langkah meninggalkan ruangan pujaanku, namun semua terlihat rusak dalam pandangan sejak bos amatir itu datang. Mengapa dia selalu datang untuk merusak keadaan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar