“Hentikan! Kau
merusaknya!”
Aku
menoleh cepat ke arah sumber suara. Mataku berputar menatap sosok itu. Sosok
yang elegan, namun mengerikan. Sosok itu tegap berdiri, hanya berjarak beberapa
meter dariku. Tanpa berkedip, aku menatap langkahnya yang kini mendekat ke
arahku. Hentakan kakinya begitu angkuh, elegan, dan tentu saja. Mengerikan.
“Kau
masukkan sampah apa dalam kuali itu?!” terjangnya nanar.
“Aku
tidak memasukkan sampah!” kilahku. Dia kembali menatap dengan sorot mata yang
tajam. Tatapan elangnya itu membuatku sedikit ciut.
“Sekali
lagi kau masukkan itu, aku takkan pernah segan untuk memaksamu angkat kaki dari
tempat ini. Camkan!” dia mengancamku disertai dengan tinju di lengannya. Yah,
klasik sekali cara mengancamnya.
“Baiklah”
jawabku cuek. Aku melengos dari hadapannya, ia hanya bisa melihatku sinis.
Kesal mungkin bocah ingusan sepertiku tidak menghiraukan kewibawaannya, yang
menurutku masih selevel dengan satpam sekolah.
Aku
melenggang santai menuju dapur belakang. Heran. Baru seminggu aku bekerja, adaa
saja yang dipermasalahkan oleh bosku yang sok galak tadi. Memangnya dia siapa?
Memarahiku, atau lebih tepatnya mencaci, dengan entengnya memanggilku
jongoslah, babu, pembokat, atau apalah itu yang menurutku sangat merendahkan.
Orang tuaku saja tidak pernah tega memanggilku seperti itu. Sekalipun aku
pernah membuat mereka marah, tapi mereka tidak akan mau, lebih tepatnya tidak
akan pernah mengeluarkan kata-kata kotor itu untukku. Lalu, maksud bos yang sok
Maha berkuasa itu apa sih, memanggilku dengan sebutan rendah itu? Dasar bos
amatiran. Karbitan.
Yeah.
Sekarang aku di dapur. Sendirian. Aku lebih suka keadaan seperti ini. Sepi.
Hening. Cocok menenangkan pikiran yang sedari tadi menjalar kemana-mana.
Sungguh memusingkan. Mataku berputar menyapu sekeliling. Lihat dapur ini. Bagus
sekali, tatanannya rapih. Dapur rumahku tidak akan pernah seperti ini. Bersih,
rapih, harum.. jangan harap kau bisa menemukan noda coklat yang menempel di dinding
keramik mengkilap itu. Dan lantainya.. oalaa, tentu saja kau bisa bercermin
menatap pantulan wajahmu di keramik putih itu.
“Sedang
apa kau disini?”
Aku
terhentak, tersadar dari lamunan. Buru-buru aku palingkan wajah, mencari ke
arah sumber suara. Hah, lagi-lagi dia, si bos amatir. Pasti mau menyemprotku
lagi.
“Sudah
kerja tidak becus, masih sempat-sempatnya saja melamun di dapur. Lebih baik kau
pulang daripada harus menganggur! Nyampah saja!” nah, benar kan? Sudah kuduga.
Aku
tidak langsung pergi dari hadapannya. Diam berdiri menatapnya sesaat,
seandainya mataku bisa memandang menerobos ke dalam dadanya, lalu kuintip
hatinya, pasti hatinya sudah beku. Hitam. Legam. Yaks, membayangkannya saja
sudah membuatku jijik.
“Kamu
tuli ya?! Sudah kubilang pulang saja! Kenapa malah ngeliatin saya?!”
Ah,
sudahlah. Aku pusing mendengar celotehannya. Andai saja dia tahu semuanya…
“Sudah
untung saya nerima kamu kerja disini, harusnya kamu bisa hargai itu! Bukan malah
menyia-nyiakannya!” Dia tidak berhenti untuk meracau. Kepalaku semakin pening. Entah
sampai kapan dia seperti ini, mungkin selamanya.
Kuseret
langkah meninggalkan ruangan pujaanku, namun semua terlihat rusak dalam
pandangan sejak bos amatir itu datang. Mengapa dia selalu datang untuk merusak
keadaan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar