Sabtu, 18 Februari 2012

cerpen kakaaaa

cintaku pada mereka

langit masih anggun dengan warna biru kehitam-hitaman. Awanpun nampaknya masih malu-malu untuk muncul. Sebaran awan tampak seperti kapas-kapas jarang. Aku sendiri sibuk dengan segala perbekalan. Mengawali hari dengan tradisi wajib semua pelajar : sekolah.
Sekitar jam enam kurang, aku siap berangkat. Menumpang boncengan dengan kakakku. Dulu, aku lebih minat naik angkutan umum ke sekolah. Kesannya aku lebih dewasa. Lambat laun aku sadar, ternyata ongkosnya boros juga untuk remaja SMP yang bersaku pas-pasan sepertiku.
Usai mengucap salam, aku dan kakakku meluncur ke tempat tujuan. Sekitar lima belas menit aku sampai. Kakakku biasa menurunkanku di depan jalan menuju sekolahku saja. Tidak sampai gerbang. Terpaksa aku harus jalan kaki, Atau naik becak. Prinsipku sama, lebih hemat lebih baik. Tanpa mengurangi isi saku, aku berjalan dengan riang menuju sekolah. Udara masih sangat sejuk untuk dihirup. Apalagi langit terlihat kejinggaan, tentram sekali rasanya untuk dipandang. Belum lagi disisi jalan banyak dijumpai bunga-bunga atau tanaman indah yang terlihat masih segar. Tidak jarang aku iseng memetiknya. Dan membawa bunga tersebut sampai ke sekolah. Lalu kubuang ketika sudah layu.
Sampai sekolah, dengan semangat aku kunjungi kelasku. Beberapa teman menyapaku. Aku balas dengan senyuman dan anggukan. Atau membalas kembali sapaan mereka yang beragam. Rasanya senang ketika mereka peduli terhadapku. Pagi itu, bibirku tak henti-hentinya mengulas senyum gembira.
Kelas masih sangat sepi. Baru sekitar tiga orang yang datang. Aku termasuk urutan ketiga yang menampakkan batang hidung di kelas. Setelah menyimpan tas, aku mengambil buku bacaan favoritku. Lalu keluar kelas, hanya sekedar mengobrol dengan kawan. Memang sulit rasanya bila harus membaca sambil berbincang dengan teman, tapi aku sangat menikmatinya. Meskipun di jam berikutnya aku harus mengulang bacaanku lagi. Karena rasanya aku belum nyambung dengan jalan cerita di novelku.
Pada saat masuk jam pelajaran, antara mood yang bagus dan tidak tercampur aduk. Antara semangat dan loyo aku rasakan sendiri didiriku. Demi ilmu yang berharga, aku berjuang melawan kantuk yang menyerang di sela-sela pelajaran. Disaat seperti inilah aku lengah. Tapi disaat seperti ini juga aku mendapat pelajaran berharga.
Di kelas, aku termasuk siswi yang cerewet. Bahkan beberapa anak laki-laki mencapku sebagai anak perempuan yang galak. Aku terima penilaian mereka dengan senang hati, aku anggap itu semua adalah kelebihanku. Meskipun terkadang hal-hal menyakitkan sering mereka ungkapkan untukku, entah terang-terangan, atau di belakang. Aku tetap terima apa adanya.
Sulit bagiku menemukan teman yang “tetap” atau sahabat yang sifatnya permanen. Aku selalu bisa menarik siapa saja untuk hanyut dalam kehidupanku. Tapi entah kenapa aku selalu kesulitan jika harus berbaur dengan hidup mereka. Aku tipe anak yang cepat bosan. Bahakan aku akui kekuranganku, aku cepat melepas mereka bila bertemu dengan yang baru. Tapi, bukan berarti aku ingin kehilangan mereka, aku hanya belum sempat mengungkapkan semua kecintaanku pada mereka, ketika aku harus berbagi cinta dengan yang lain pula.
Teman sepermainanku awalnya hanya berempat. Lalu masuk anggota baru dengan jumlah dua orang. Genaplah menjadi enam orang termasuk aku. Awalnya mungkin aku agak keberatan, tapi mungkin semua ini jalan yang terbaik dari Tuhan.
Semakin terulurnya waktu, kami semakin lengket dengan berbagai pengalaman dan derai tawa yang kami alami bersama. Aku tidak menyesal berteman dengan mereka, bahkan aku sanggup untuk bersumpah bahwa aku tidak akan pernah menyesal menjadi teman mereka.
Namun, semakin ke depan, aku merasakan sesuatu hal yang untuk pertama kalinya aku merasakan hal ini. Rasanya sangat aneh, perpaduan antara bingung dan jenuh. Bingung karena harus menamainya apa tentang rasa ini, dan jenuh dengan semua yang aku alami bersama mereka. Aku jenuh dengan semua hal yang kami lakukan. Kami selalu melakukannya bersama, bahkan hanya untuk ke toilet pun kami seakan seperti perangko dengan suratnya. Serasa tidak ingin lepas. Aku merasakan sensasi yang menurutku sangat membosankan. Aku ingin mencari suasana baru, yang lebih menantang. Aku tidak berniat meninggalkan mereka, hanya ingin “merantau” sementara ke pulau persahabatan lainnya yang lebih mengesankan. tapi bukan berarti pengalamanku dengan mereka tidak mengesankan.
Aku berhasil mendapatkannya. Lembar-lembar pengalaman terbaru aku mulai dengan suka cita. Tapi bukan berarti aku dapat dengan mudah mendepak teman-teman lamaku yang masih sangat kucintai. Aku masih sempat bertemu mereka, berkumpul dengan mereka, meski tidak selengket dulu, perangko dengan suratnya.
Berlembar-lembar dokumen persahabatan aku simpan dan selalu kukenang dalam ingatanku. Membuatku selalu tersenyum jika membayangkannya. diriku seakan ingin memutar ulang dokumen lamaku itu, dan mengecap kembali cita rasa kebahagiaan yang pernah kualami.
Kini, dokumen persahabatanku sudah terkumpul banyak. Sahabat lamaku tentu menduduki urutan pertama dalam dokumen tersebut. Aku tidak akan pernah lupa dengan kenangan manis mereka. Sungguh indah bila dibayangkan, rasanya seperti meluapkan kegembiraan dan kerinduan yang selama ini terpendam. Banyak sekali pengalaman yang aku rasakan, mulai dari tertawa bersama, menangis bersama hanya karena masalah sepele, ataupun masalah yang benar-benar besar, hingga sampai ke permusuhan.
Yang sering kualami adalah permusuhan yang bila dibayangkan  dengan akal jernih hanya karena masalah kecil, bahkan sangat kecil untuk ditetapkan dalam status permusuhan. Terutama hal cowok yang disukai. Salah satu dari kami memang sangat sensi untuk masalah yang satu ini, bahkan aku mengalami sendiri kesensiannya. Temanku tidak mau membuka mulut untukku selama tiga bulan hanya karena ia mengira aku menyukai cowok yang ia sukai. Padahal kenyataannya salah besar. Aku dan cowok yang temanku sukai hanya bertanding tenis meja disekolah, walau di sela-sela permainan kami sempat bercanda, mungkin hal inilah yang menjadi persoalan besar bagi temanku. Gejolak cemburu yang sangat hebat mungkin yang ia rasakan saat itu. Aku mengerti perasaanya, dan berkali-kali aku mengungkapkan permohonan maafku padanya, tapi rasanya itu sangat kurang ditelinganya. Omonganku dianggap angin lalu yang terbuang. Hingga sampai pada akhirnya aku menyerah dan tutup mulut, walau jujur aku akui, aku sangat sedih dan sakit hati. Tapi aku berusaha untuk tegar dan bersabar.
Kala itu, aku seperti kehilangan benda yang amat berharga untuk selama-lamanya. Aku harap itu bukanlah pertemanan yang harus aku akhiri saat itu juga.
Bertahun lamanya, konflik itu makin lama makin banyak yang aku alami. Aku bingung harus bagaimana, seperti apa, untuk terlihat sempurna atau jadi yang mereka inginkan. Sungguh tidak adil, kenapa harus aku saja yang mengalami ini ? kenapa bukan salah satu dari mereka saja?
Cukup! Aku sudah mengalami hal yang paling sulit. Semua kejadian itu telah merusak dokumenku. Dokumen yang amat berharga, dokumen persahabatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar