Kamar 13
“Ra, bisa di stop dulu engga? Bantuin aku ngangkutin ini dong!”
Hari masih pagi. Namun, di situasi seperti ini justru aku dan lingkunganku sudah dipenuhi dengan kesibukan. Hmm, seperti aku ini. Sibuk dengan buku kampus yang berjumlah beratus-ratus halaman, map-map tebal, lembaran kertas ujian, dan masih banyak lagi yang menurutku sangat memuakkan. Ya, aku muak dengan tugas ini! Hufft…….
Aku mengangkat kepala. Dengan enggan, aku menghampiri Dewi, teman satu kosku. Dia sedang membongkar rak tua di sudut kamar. Entah apa yang sedang dicarinya. Tapi, feeling ku mengatakan kalau pagi ini dia akan pergi ke tukang kiloan yang biasa menimbang kertas atau koran bekas.
“Aduh, Wi.. tugasku lagi numpuk nih! Bisa sendiri dulu engga?” keluhku malas. Aku memang berkata sejujurnya. Sejak jam enam pagi, aku sudah menyibukkan diri dengan buku-buku kampus yang membuatku mual bila kutatap. Tugas makalah yang kudapat dari dosenku sangat menyita banyak waktu.
“Alah…!! Alasan saja kau! Cepet bantu aku membawa koran-koran ini ke depan!” perintah Dewi galak. nah, apa kubilang? Ujung-ujungnya pasti ngiloin!
Dengan sangat terpaksa, aku menuruti perintahnya. Segera kuangkut koran-koran usang tersebut. Aku berjalan ke luar kos-kosan menuju gerobak besi yang terlihat sudah reot. Gerobak usang itu sudah menunggu sejak tadi di depan tempat kosku. Mungkin, sekitar setengah jam yang lalu.
“nih, pak!” kataku sambil menyodorkan kantong keresek hitam yang didalamnya sudah diisi koran-koran bekas. Wajah bapak tukang kilo itu terlihat sumringah saat menerima koran-koran bekas dariku. “oiya neng, ini uangnya” kata bapak itu sopan sambil menyodorkan selembar uang lima ribuan padaku. aku menerimanya tanpa mengucapkan terimakasih. Setelah itu, aku pergi menuju kos-kosanku lagi.
“dapat berapa?” tanya Dewi kepadaku saat aku sudah kembali ke kamar kos. “lima ribu” jawabku pelan. Dewi menerima uang dariku dengan senang. “lumayan, buat nambahin ongkos ke kampus” ujarnya kepadaku sambil tersenyum-senyum. Aku ikut tersenyum kecut. Lalu, kulirik rak tua yang nangkring di sudut kamar. Kini, rak itu terlihat lebih rapih dan bersih. Ini semua berkat Dewi, pikirku. Mungkin saja, kalau tidak ada dia, rak itu sekarang sudah ambruk karena dipenuhi dengan kertas dan koran bekas yang tidak terpakai.
“oh, ya. Hari ini kamu berangkat jam berapa?” tanya Dewi membuyarkan lamunanku. Aku angkat bahu. “mungkin siang” jawabku tanpa menoleh ke arahnya. “aku juga” kata Dewi ikut-ikutan. Aku hanya mengangguk. Lalu, kulirik jam dinding yang nemplok di sisi kamar. Jam sembilan. Aku harus siap-siap untuk pergi ke kampus. Segera kubereskan buku-buku kampusku dan memasukkannya ke dalam tas. Sebagian kusimpan di atas meja belajarku. Lalu, aku melangkah menuju toilet untuk mandi.
Tepat jam sebelas, aku sudah rapi dan siap untuk pergi. Kulihat Dewi masih sibuk dengan rambut panjangnya. Aku menghampirinya dan langsung membantu menyisir rambutnya yang indah. “kayaknya, aku harus memangkas rambutku sepulang dari kampus.” Ujarnya sedih. Aku tidak menimpalinya. Setelah beres masalah rambut, kami segera meluncur ke kampus menggunakan mobil. Tak lupa sebelumnya kami mengunci pintu kos.
Dua puluh menit kemudian, kami sampai. Aku menyuruh satpam untuk memparkirkan mobilku. Lalu, aku masuk ke dalam kampus bersama Dewi. Saat kami sedang berjalan di koridor, aku melihat kerumunan orang-orang yang ramai. Aku tertarik untuk menghampiri. Begitu juga dengan Dewi.
“Ada apa sih, ada apa? Ada apa?” tanya Dewi heboh. Tak ada yang menjawab. Semua orang sibuk melihat ke arah mading. Aku tambah penasaran. Jangan-jangan, pengumuman nilai ujian! Batinku takut. Aku tetap memaksakan diri untuk “merengsek” maju. Aku berhasil menyelak teman-temanku. Saat kulihat ke mading, disana sudah tertempel sebuah cerpen atau mungkin yang lain berjudul “KAMAR 13”. Aku mengerutkan kening. Apa maksudnya ini?
“kamar tiga belas?” tiba-tiba Dewi sudah berada di belakangku. Dewi bertanya kepadaku. Aku menggelengkan kepala. “engga tahu” jawabku polos. Aku celingak-celinguk kesana-kemari. Berharap bertemu dengan teman yang lain. Tak lama kemudian, aku melihat seseorang yang sangat kukenal.
“Imaamm..!!” teriakku lantang. Yang dipanggil segera menoleh. Aku menghampirinya sambil berlari. “mam, kamu tau pengumuman yang di mading itu engga?” tanyaku sambil menunjuk ke arah mading yang dipasang di seberang koridor tempatku berdiri. Imam terdiam sejenak. Lalu berkata. “yang kamar tiga belas itu ya? Iya, aku tahu.” Kata Imam sambil memandangiku. “maksudnya kamar siapa sih?” tanyaku tak mengerti. Imam lalu tertawa sumbang. “kamu kok ketawa sih, mam?” tanyaku kesal. Imam berhenti tertawa saat melihat aku marah. “kamu ini, itu kan Cuma cerpen.. engga nyata. Hahaha..” jawabnya setengah meledek. Aku kesal. Segera kuhentakan kaki keras-keras. Lalu aku pergi menuju kelas meninggalkan imam yang masih ngikik di koridor kampus.
“Lho, Ara? Kok muka kamu kusut?” tanya Uwi, teman sebangkuku yang culun abis.
“belum disetrika!” jawabku asal. Aku lagi malas untuk mengobrol sekarang. Aku lebih berminat untuk membaca novel siang ini. Aku membongkar tas, mencari novel yang kuinginkan. Namun, terlambat! Batang hidung dosenku sudah muncul di depan kelas. Aku memulai pelajaran dengan tidak bersemangat. Baru satu jam kemudian, kelas boleh dibubarkan.
Aku melangkahkan kaki ke arah mading itu lagi. Aku ingin membaca cerpen “KAMAR 13”. Sedang asyik-asyiknya membaca, tiba-tiba sebuah lengan menempel di pundakku. Aku terlonjak kaget. Uugghh! Ternyata hanya Imam!
“ada apa mas?” tanyaku agak kesal. Imam tersenyum jahil ke arahku. “Ra, kamu tau engga, walaupun cerita kamar tiga belas itu hanya cerpen, tapi itu kenyataan lhoo..” kata Imam masih tersenyum jahil ke arahku. “bodo’ “ kataku acuh. “tepatnya ada di kampus kita ini. Katanya sih, tempatnya di dekat gudang belakang itu.. kamu tau kan? Denger-denger, disana sarangnya han–“ “udah deh! Ngibul aja kerjaan lo!” bentakku gemas. Aku tak tahan mendengar ceritanya. Bukan karena aku penakut, tapi aku sebal dengan gaya bicara Imam. Ingin sekali aku menampar wajahnya. “lagian, di dekat gudang itu engga ada kamar! Melainkan adanya kelas aku!” aku membentaknya sekali lagi. Tapi, imam malah tersenyum kecut ke arahku. “kamu baru tahu ya? Kelas kamu itu kan, memang bekas kamar tiga belas!” timpal Imam dengan wajah serius. Aku agak merinding mendengarnya. Tapi, aku masih kurang percaya dengan perkataannya.
---oo---
“Ah, masa sih? Tapi.. kok dosen engga ada yang cerita?” tanya Dewi penasaran saat aku menceritakan kisah “kamar 13” itu padanya. Saat ini, kami sedang makan malam di sebuah restoran mewah.
“aku juga engga tahu, tapi itu semua kata Imam. Aku juga kurang percaya sama omongannya..” jawabku sambil menggigit sepotong pizza keju yang sangat lezat. Kulirik Dewi masih bergidik. Ia lalu menyedot jus alpukatnya. “tapi, tadi dia ngomong sama aku kayaknya serius banget. Tumben-tumbenan dia kaya gitu. Biasanya kan dia konyol” kataku melanjutkan. “tapi, tadi siang temen aku juga ada yang cerita kaya gitu.. malah pengarangnya, juga bilang sendiri kaya gitu ke aku…” timpal Dewi serius. Aku tersedak makanan. Lalu “berdehem” kecil sambil menyeruput cappucino milikku. “tapi kan, yang ngarang dosen?” tanyaku heran. “iya, memang. Dia bilang, katanya kelas kamu dulunya memang bekas kamar tiga belas itu. Dan ternyata, kampus kita dulunya adalah sebuah asrama yang dibangun pada jaman belanda. Katanya, di kamar tiga belas itu pernah ada yang bunuh diri disana. Makanya, jadi seram gitu deh..” terang Dewi. Aku bergidik ngeri. Ah, Dewi menakut-nakutiku saja! “sudah, ah.. pulang yuk.. “ ajakku pada Dewi. Kenapa tiba-tiba aku jadi merinding begini? Aku memutuskan untuk pulang saja. Lagipula, sekarang sudah jam sepuluh malam. Dewi hanya mengangguk sambil menghabiskan jus alpukatnya yang masih tersisa setengah gelas. Setelah itu, kami meluncur kembali ke tempat kos-kosan yang kami tempati.
---oo---
“ARAA!!”
Aku menoleh ke arah sumber suara yang memanggilku. Celingak-celinguk kesana-kemari. Di seberang koridor, kulihat Imam sedang melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Ugh! Lagi-lagi Imam! Pasti Cuma niat mau jahil doang! Batinku kesal. Aku memandangi Imam yang sedang berlari-lari kecil ke arahku. “hehehh..” Imam menyeringai lebar tepat di depan wajahku. Aku sedikit menjauhkan wajahku dari wajahnya. Apa-apaan sih Imam ini?
“Ngapa lu nyengir?” tanyaku ketus dengan tatapan jutek ke arahnya. “weits! Nyantai dulu bang! Niat saya baik kok.. karena saya memang terlahir sebagai orang baik hati dan dermawan. Makanya saya ga pernah pel–“ “aahhh..!! bawel lo! to the point aja nape! Apa urusan lu manggil gue? Pake nyengir segala lagi!” semprotku kesal. Imam tersenyum jahil padaku. Aku hanya mencibir. “begini nyonya, jadi, abis pulang dari kampus, gue pengen nraktir elu sama Dewi. Gimana? Mau engga? Mumpung dompet gue lagi tebel nih… mau yah?” jelas Imam dengan gayanya yang “jijay abis” itu. Aku hanya tersenyum. Tapi senyumku maksa banget! Imam mendelik ke arahku. Aku tak menanggapi dan segera melenggang pergi. “ehh.. mau kemana lo?” tanya Imam sambil menarik tanganku. “aahh.. apa lagi sih? Lepasin tangan gua ah! Kan bukan muhrim kata cang Rohim!” protesku asal. Imam tertawa renyah. Serenyah kerupuk kulit basi!!
“udah ya.. gua pergi! Oh, ya. Gue ikut kok acara traktiran lo.. tenang aja. Daahh!! Gue mo cabut ke kelas duluu!!” teriakku agak panik sambil ngibrit menuju kelas. Aku baru sadar kalau kalau sekarang sudah waktunya masuk. Bahkan, aku terlambat lima menit! Oh, no! ini semua gara-gara Imaamm!!
“Gimana Dew? Lu mau ikut kan? Ayo doonngg..!! kan kalo soal makan lu paling jago..!!” teriakku semangat. Saat ini, kami sedang berdandan di kamar mandi kampus. Kamar mandi kini terlihat kinclong. Hasil kerja payahku karena datang terlambat. Aku masih bisa bersyukur diberi hukuman seperti ini. Untung saja bukan disuruh membuat makalah. Bisa-bisa muntahku lebih banyak dari membersihkan WC. Aku memang anti sekali dengan kata “MAKALAH”
Dewi memasang tampang be-tenya. Aku nyengir kuda selebar mungkin. “Boleh aja lu ngajak gua.. tapi engga usah ngina gitu dong!” protes Dewi sambil manyun. Aku masih memasang nyengir kuda di wajahku. Dewi tambah manyun.
“Hai cewek-cewek!! Udah siap beloomm???” tiba-tiba sebuah kepala nongol dari balik pintu toilet perempuan. Aku menjerit histeris. “Lo ngapain masuk-masuk sih mam? Nekat banget tau gak? Untung aja cuman ada gue sama Dewi! Coba kalo ada cewek laen? Pasti lu pulang-pulang tinggal jempol kaki doang!” bentakku sadis. Imam malah cengengesan tanpa dosa. Aku buru-buru keluar dari toilet. Imam mengekor di belakang. “eh, jadi kan acaranya?” tiba-tiba Imam sudah menghadangku tepat di depan muka. Aku hanya mengangguk kecil sambil tersenyum “maksa”.
“udah kan, engga ada yang ketinggalan?” tanya Dewi heboh saat berada di dalam mobil sedanku. “engga ada bos! Semua lengkaapp!!” kata Imam yakin setelah mengecek semua barang bawaannya yang masih lengkap. Sedangkan aku, masih merasa gelisah. Seperti ada yang tertinggal.. tapi apa ya? Hmm.. tas ada, makalah lagi digenggam ditangan, jam tangan masih melingkar di pergelangan tangan, sisir juga ada.. kosme–hei! Kosmetik! Kosmetikku tertinggal di kamar mandi! Ya ampuunn.. ceroboh banget sih?
“Kenapa Ra? Kok lu kayak panik gitu?” tiba-tiba pertanyaan Dewi mengagetkanku dari lamunan. Aku masih mengatupkan mulutku. “lu kenapa sih?” sekarang giliran Imam yang bertanya. “ngg… anu.. anu..” aku tergagap. “kenapa sih?” tanya imam engga sabaran. “kosmetikku tertinggal! Gimana doonngg??” jawabku panik. Wajah Dewi terlihat geregetan. Sedangkan Imam cuek bebek. “anterin aku yuukk… plliisss..!!” pintaku memohon. Aku sangat menyayangi kosmetikku. Karena kualitasnya bagus sekali. Dan, hmm.. harganya juga tidak murah. Jadi, kalau terpaksa kutinggalkan, aku sangat tidak rela.
“hmm.. oke-oke, gue anterin lo” tiba-tiba Imam menawarkan. Aku agak terkejut mendengarnya. Masa aku harus bawa-bawa Imam ke toilet cewek? Ihh.. engga banget deh! “Wi, sama lu aja deh.. yah?” pintaku kepada Dewi. Aku mengacuhkan tawaran Imam dan memasang tampang tak berdosa ke arahnya. Imam memasang tampang bete. “adduuhh.. kaki gue udah mo copot nih, tadi habis lari-lari. Jangan ama gue deh, tuh, tadi Imam udah nawarin?” kilah Dewi dengan tampang menyesal. Aku tidak enak hati kalau sampai memaksanya. Kulirik Imam, dia cengar-cengir ke arahku. Aku memasang tampang jutek ke arahnya. “terpaksa, dengan sangat sangat berat hati, gue terima tawaran lo!” semburku sinis ke arah Imam. Imam masih cengengesan. Aku sampai kesal melihatnya. “tunggu apa lagi sih, lo? Cepettan turun!” ucapku sinis. Aku mendahului Imam turun dari mobil. Lalu Imam mengekor di belakangku.
---oo---
“kok lu bisa lupa sih? Emang lu nyimpennya dimana? Teledor banget!”
Aku tak mengubris perkataan Imam tadi. Aku terus berjalan maju ke depan. Koridor sudah terlihat sepi. Hanya terlihat satu-dua orang lalu-lalang. Atau sekedar “ber-haha-hihi” di bangku koridor. Aku agak miris melihatnya. Kulirik Imam di belakangku, ekspresinya sangat datar sekarang.
Aku menghentikan langkahku tepat di samping mading yang tertempel manis di dinding koridor. Kulihat, cerpen “KAMAR 13” masih dipajang di mading tersebut. Imam ikut mengamati. “Mam, lu tunggu sini ya, gua mau nyari barang yang gua cari di kamar mandi dulu..” pintaku kepada Imam yang berdiri di sampingku. “yakin, engga mau gua temenin?” tawar Imam dengan ekspresi datarnya. Aku hanya menggeleng. “sebaiknya gua ikut lo, deh!” pinta Imam setengah memaksa. Aku melarang keras. Ogah deh, ngajak-ngajak cowok ke toilet cewek! Hhiiyyy…
Aku berjalan tanpa “pendamping” di koridor. Aku terus mengayunkan kakiku ke arah toilet perempuan. Toilet itu berada tepat di belakang gudang. Dan gudang tersebut, dibangun dibelakang kelasku. Sekarang, toilet sudah hampir benar-benar sepi. Aku merasa sedikit merinding. Aku menyesal, kenapa tadi engga ngajak Imam ya? Ah, tapi untuk kembali kesana aku sangat malas untuk membalikkan tubuh.
Aku terus melenggang dengan santai ke arah toilet. Tiba-tiba, tepat di depan wajahku, aku melihat sebuah ruangan yang belum pernah kukenal sama sekali. Bertahun-tahun aku kuliah di kampus ini, rasa-rasanya belum ada yang membangun ruangan macam ini. Aku tertarik dan penasaran untuk segera memasukinya. Aku tidak curiga sama sekali. Saat kubuka pintunya, hei? Ini sebuah… ruang kamar! Menurutku begitu. Karena disana terdapat perabotan kasur, meja rias, lemari, dan yang lainnya. Ya, ini memang kamar! Barang-barang didalamnya terlihat sudah usang. Aku melihat-lihat. Ah, mungkin ini kamar satpam atau mungkin tukang bersih-bersih kampus. Aku terus melihat-lihat, tanpa sadar sudah ada yang memegang bahuku. Aku tersentak kaget. “sedang apa kamu disini?” tanya seseorang yang sedang memegang bahuku. Aku tidak tahu sejak kapan dia sudah masuk ke kamar ini. “hhmm.. ngg..” ups, apa yang harus kujawab?
“kok diam? Ya sudah, kita ngobrol-ngobrol dulu deh..” ajak wanita muda itu. Aku mengamati wajahnya. Rasanya, aku belum pernah mengenal orang ini di kampus. Ah, mungkin orang baru, pikirku.
“aku akan menceritakan sebuah kisah untukmu” kata wanita itu tanpa kuminta. Aku mengangkat alis. Lalu, wanita itu mulai menceritakan kisahnya padaku. “saat aku berusia sembilan belas tahun, orang tuaku bercerai. Aku sangat berduka. Semenjak mereka bercerai, aku tinggal dengan ayahku. Lalu, ayahku mengirimkanku ke sebuah asrama yang cukup elite. Aku cukup senang. Karena aku akan mempunyai banyak teman disana. Bertahun-tahun aku tinggal di asrama, aku belum pernah dijenguk oleh ayahku. Aku sedih sekali..” aku menatapnya iba. Matanya yang berkaca-kaca menerawang ke arah langit-langit. Lalu, dia melanjutkan kisahnya padaku. “tapi, kesedihan itu hilang ketika ada seseorang yang sangat peduli padaku. Aku senang sekali padanya. Dia selalu ada setiap aku membutuhkan dirinya. Dia seorang pemuda yang baik hati, pintar, penyayang, dan sangat peduli. Aku jatuh cinta padanya. Tapi, aku belum tahu perasaannya kepadaku..” aku menatapnya. Sebenarnya, aku kurang suka mendengar seseorang yang menceritakan sebuah “kisah cinta”. Tapi, biarlah, aku kasihan padanya.
“suatu hari, aku mendengar kabar kalau dia sudah mempunyai seorang kekasih. Aku cemburu. Sangat cemburu. Bahkan, aku berani melabraknya. Tiba-tiba, dia menamparku. Aku menangis. Aku tak menyangka dia akan setega itu padaku. Karena aku sangat sedih, cemburu, dan marah, aku sampai nekat untuk…..” kalimatnya menggantung. Aku menunggu kelanjutan ceritanya dengan jantung berdebar. “un.. untuk a.. apa?” tanyaku terbata-bata ”bunuh diri!” ucapnya sambil menatap dalam ke arahku. Seketika itu juga, rasanya aku ingin pingsan. Kepalaku terasa pening seketika. Wajah wanita itu tiba-tiba memucat. Dan, mengalir darah dari seluruh tubuhnya. Aku ngeri melihatnya. Aku sempoyongan berjalan ke arah pintu kamar untuk keluar. Aku baru sadar sekarang kalau aku memasuki ruang yang salah.
Kakiku terasa berat untuk melangkah. Aku sempat menoleh ke belakang, kulihat sosok wanita itu tiba-tiba berubah menjadi samar-samar dan lenyap seketika. Ketika aku keluar, aku langsung mengambil langkah seribu. “IIMMAAMM!! TOLONGIN GGUUEE!!” teriakku panik, berharap Imam datang secepatnya. Harapanku terkabul. Imam menghampiriku dengan panik. “kenapa? Kenapa?!” tanya Imam khawatir. “kamar.. kamar…” jawabku sambil menangis. Imam mengerutkan kening. “udah gue bilang lu harus gue temani” ucap Imam padaku. Aku tak peduli apa yang dia katakan. Di benakku hanya ada kalimat “AKU INGIN PULANG DAN PINDAH KULIAH!”
Sampai di tempat kosku, aku masih menangis. “udahlah, jangan dipikirin lagi, lain kali, makanya lu nurut..” nasihat Dewi sambil menatapku prihatin. Aku hanya bisa mengangguk. “ternyata, cerita lu bener mam.. kelas gue emang bekas kamar.. kamar.. tiga belas” kataku sedikit gemetar. Imam terdiam. “pas gue keluar dari kamar itu, gue sempat ngeliat tulisan di atas pintu itu. Tulisannya bukan nama kelas gue, melainkan berubah jadi “kamar 13” gua baru nyadar. Dan ternyata, tempat itu memang di depan gudang tepatnya..” terangku masih dalam keadaan takut. Dewi memasang tampang ngeri. “terus, kosmetik lu gimana dong?” tanya Imam setengah mengejek. Aku menatapnya sebal. “biarin! Gue udah kaya! Bisa beli yang lebih mahal lagi!” semburku sinis. Imam tersenyum geli ke arahku.
---oo---
Esoknya, aku berangkat ke kampus bersama Dewi. Saat aku ingin memasuki kelasku, kulihat pintu kelasku ditutup rapat-rapat dan digembok. Bahkan sampai pakai rantai segala. Aku heran sekali. Tiba-tiba, Risma temanku datang menghampiriku. “ngapain kamu bengong disini? Ayo masuk kelas!” ajaknya ramah. “tapi kan..” aku bertanya heran sambil menunjuk-unjuk pintu bekas kelasku. “apa? Kamu kira kelas kita disini? Jangan bercanda deh.. kita kan engga pernah nempatin gudang buat belajar..” celetuk Risma. Apa katanya? Kelas ini disebut gudang? Dan, kita engga pernah menempati tempat ini? Ini sungguh gila! “ayyookk!! Tunggu apa lagi sih kamu?” ajak Risma sambil menarik tanganku. Aku menatap pintu “kelas” itu sekali lagi. Tiba-tiba, aku mendengar samar-samar suara berkata padaku. Asalnya dari dalam gudang itu.
“terimakasih selama ini kau selalu mengunjungiku dan menemaniku setiap saat….”
Lututku terasa lemas seketika…………………..
~ SELESAI ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar