Jumat, 30 November 2012

history of 'dandelion'

Baru sempet ngepost hari ini. huaah. kayaknya kesempatan banget banget setelah sekian lama terjerat oleh tugas dan ulangan yang bikin sesak napas.

You must know. ternyata autobiografi yang selama ini gua abaikan dalam jangka waktu yang lama, sekarang justru gua malah mengorbankan apa yang mampu gua korbankan untuknya. waktu, uang, tenaga, semuanya! mungkin dulu gua terlalu sombong, mengabaikan tugas penting itu. sebenarnya, apa susahnya sih ngerjain tugas hanya dengan mengarang cerita tentang hidup kita? emang gak susah. sama sekali. tapi justru kita terbuai oleh kemudahan yang sudah kita rasakan. menyedihkan.

Detik-detik terakhir pengumpulan.. oh my, gua terlalu agresif. emosi gua naik, aneh memang. lebay sih.. bodo amat -_-
Autobio itu gua kasih judul "history of dandelion". pasti kalian udah pada tau kan dandelion itu apa? yang jelas bukan barang rongsok atau sampah yang diolah di kampung sebelah.. *krik krik krik*

Eh iya. gua punya masalah nih. sebenarnya setiap hari gua punya. curhatin gak ya?

Oke, ini masalah seorang cowok. bukan tentang asmara ya. heran deh, tiap ngomongin cowok pasti dominanya sukalah, sayanglah, cinta.. shut up. konyol, bodoh, payah. hah, pikirkan itu. (sorry, emosi kan -__-)
Gak tau ya, apa ini cuma perasaan gua, atau emang benar-benar insting yang kuat. gua merasa janggal sama semua tingkah dia. sebenarnya awalnya bukan janggal, tapi kagum. sangat kagum. sampai-sampai gua harus memuji dia dengan ribuan kata-kata, dan itu tanpa gua sadari. entah apa tujuannya. menaikkan harga diri dia, atau justru harga diri gua sendiri yang akan lengser.

Tapi makin kesini, gua terlalu... yah, penasaran. penasaran sama semua tentang dia. kepribadian dia yang selalu dipuja oleh orang tua gua. aneh ya, muji anak orang lain. anak sendiri aja kadang-kadang dicuekin. peduli amat sama cowok itu. padahal kalau sama gua masa bodoh.

Gua cuma mau membuktikan sendiri omongan orang tua gua yang mujinya setinggi langit. gua yakin seribu persen, orang tuanya sendiri gak pernah bertingkah sama layaknya orang tua gua. boro-boro muji, masih kenal gua aja udah untung. 

Jadi.
Letak kesalahannya ada dimana? 
Di cowok itu, orang tua gua, atau orang tua dia?
Semua berawal dari cowok itu, lalu merembet pada tokoh-tokoh yang lain.

Aduuh, lama deh. langsung ke intinya aja deh -_________________--
Gua cuma kagum. gak lebih. gua berusaha jadi teman, tapi lu gak terima karena sebab kekurangan yang ada pada diri gua. sorry gua pernah berbuat hal yang gak pernah lu sukain, tapi itu semua berawal dari ketidak tahuan gua. oke oke, kesannya kok gua kayak ngemis perhatian gitu ya? sama sekali enggak, gua gak bakal mau dan gak akan pernah mengemis apapun dari lu. secuilpun, gak akan ada yang gua harapkan dari lu. gua cuma ingin, lu memperlakukan gua layaknya lu memperlakukan teman-teman yang lain. awalnya, gua kira cara berinteraksi lu emang beda sama seorang cewek kayak gua, tapi nyatanya cuma gua yang 'dibedakan'. bukannya iri, tapi merasa terdiskriminan aja. gua cuma heran. kita baru kenal udah dipisahkan oleh tembok perselisihan. dimulai oleh masalah yang sebenarnya gak ada masalah apapun. seumur hidup, gua baru pertama kali mengalami pertemanan yang dijalin bersama seseorang yang bukan teman. atau lebih tepatnya tidak dapat dijadikan teman.
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar