The wiser girl. Haha. Julukan itu yang selalu aku harapkan. Keren saja
kedengarannya. Walaupun kenyataannya, aku selalu berusaha untuk itu. Aku sudah
menganggap diriku bijak. Tapi, sebijak-bijaknya aku, tetap saja tak ada
tandingannya dengan bobot kebijakan orang tuaku. Aku tidak akan bisa
mengalahkan mereka, sampai kapanpun. Selamanya.
Mengapa aku ingin bijak? Hmm kenapa ya? Waduh, aku juga bingung harus
menjawab apa. Tapi setidaknya, semua orang bijak, akan dapat penghargaan
tersendiri untuk itu. Orang akan memandang dia seolah-olah dia yang paling
pintar, dan tahu segala kebenaran. Tau Mario Teguh kan? Aku sangat mengagumi
sosoknya. Setiap menonton acaranya, aku selalu ingin seperti dia. Dia selalu
hebat dalam merangkai kata-kata, dan aku yakin, pada kenyataannya tidak semua orang bisa mengerti apa yang ia
ucapkan. Perlu menyimak dengan baik semua ucapan yang ia lontarkan. Kalau
kalian mengerti, pasti akan kagum juga sepertiku. Sosok yang jenius.
Aku berusaha untuk selalu mengambil tindakan dengan bijak. Sampai hal
yang aku sukai, walaupun sebenarnya itu tidak penting, aku selalu menganggap
hal ini akan menjadi besar pengaruhnya. Baik sekarang, ataupun nanti.
Aku sangat menyukai bunga. Bunga apa saja. Bunga bangkaipun, bisa aku
bilang mereka juga bunga yang cantik. Hanya saja, karena baunya yang tidak
sedap itulah, mereka mendapatkan cap bunga terburuk, di image orang sudah
tersirat jelas. Aku selalu kagum pada bunga, bagaimana cara mereka tumbuh
sampai berkembang biak lagi. Mereka memberikan sejuta manfaat untuk serangga,
benar-benar simbiosis yang sangat menguntungkan. Untuk hidupnya, dan hidup di
lingkungan sekitarnya. Aku juga ingin seperti itu. Aku mau mempunyai manfaat
yang dapat aku nikmati untuk diriku sendiri dan orang lain yang ada di
sekitarku.
Kalian tahu dandelion? Bunga yang sangat aku kagumi. Dari salah satu
novel yang pernah aku baca, dandelion adalah sosok bunga yang tegar. Dia seakan
menjelma seperti makhluk yang tak pernah mati. Dia kuat bertahan hidup, apapun
dan bagaimanapun keadaannya, dia seakan tidak merasa nyawanya terancam. Di
musim salju yang amat dingin, dandelion masih dapat tumbuh. Bahkan, saat musim
panas yang menyengat, dia seakan tak pernah menyerah untuk selalu mendongak
matahari, dan berkata “aku masih tetap bersinar, bung”
Dandelion bisa hidup dimana saja. Di retakan trotoar, di samping rel
kereta, atau bahkan di kolong jembatan, dia masih akan tetap hidup, asalkan ada
sinar matahari. Aku ingin seperti dandelion, makhluk tegar, kuat, dan pantang
menyerah walaupun sebuah musibah besar menimpa kepadaku nanti. Aku tidak pernah
mau mengeluh, walaupun kenyataannya aku sering melakukannya. Tapi untuk
selanjutnya, aku akan melupakan masalah itu dan mulai membuka lembaran baru
lagi.
Dandelion kujadikan sebagai prinsip untuk hidupku. Sekali lagi, aku ingin
seperti bunga. Aku selalu ingin menghasilkan manfaat. Bukan hanya aku saja yang
dapat menikmati manfaat itu, tapi aku akan menebar semua kenikmatan yang aku
miliki untuk mereka. Mereka yang sangat aku sayangi di luar sana, apapun keadaannya,
status, atau sekedar babat, bebet, bobot, atau entahlah apa itu namanya. Aku
ingin menebar semua kebajikan untuk mereka, aku ingin hidup damai. Sedamai yang
aku rasakan saat melihat bunga-bunga indah bertebaran di taman…….
Apa aku sudah cukup bijak sekarang? Hehehe..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar