Jumat, 01 Juni 2012

Dandelion


The wiser girl. Haha. Julukan itu yang selalu aku harapkan. Keren saja kedengarannya. Walaupun kenyataannya, aku selalu berusaha untuk itu. Aku sudah menganggap diriku bijak. Tapi, sebijak-bijaknya aku, tetap saja tak ada tandingannya dengan bobot kebijakan orang tuaku. Aku tidak akan bisa mengalahkan mereka, sampai kapanpun. Selamanya.
Mengapa aku ingin bijak? Hmm kenapa ya? Waduh, aku juga bingung harus menjawab apa. Tapi setidaknya, semua orang bijak, akan dapat penghargaan tersendiri untuk itu. Orang akan memandang dia seolah-olah dia yang paling pintar, dan tahu segala kebenaran. Tau Mario Teguh kan? Aku sangat mengagumi sosoknya. Setiap menonton acaranya, aku selalu ingin seperti dia. Dia selalu hebat dalam merangkai kata-kata, dan aku yakin, pada kenyataannya  tidak semua orang bisa mengerti apa yang ia ucapkan. Perlu menyimak dengan baik semua ucapan yang ia lontarkan. Kalau kalian mengerti, pasti akan kagum juga sepertiku. Sosok yang  jenius.
Aku berusaha untuk selalu mengambil tindakan dengan bijak. Sampai hal yang aku sukai, walaupun sebenarnya itu tidak penting, aku selalu menganggap hal ini akan menjadi besar pengaruhnya. Baik sekarang, ataupun nanti.
Aku sangat menyukai bunga. Bunga apa saja. Bunga bangkaipun, bisa aku bilang mereka juga bunga yang cantik. Hanya saja, karena baunya yang tidak sedap itulah, mereka mendapatkan cap bunga terburuk, di image orang sudah tersirat jelas. Aku selalu kagum pada bunga, bagaimana cara mereka tumbuh sampai berkembang biak lagi. Mereka memberikan sejuta manfaat untuk serangga, benar-benar simbiosis yang sangat menguntungkan. Untuk hidupnya, dan hidup di lingkungan sekitarnya. Aku juga ingin seperti itu. Aku mau mempunyai manfaat yang dapat aku nikmati untuk diriku sendiri dan orang lain yang ada di sekitarku.
Kalian tahu dandelion? Bunga yang sangat aku kagumi. Dari salah satu novel yang pernah aku baca, dandelion adalah sosok bunga yang tegar. Dia seakan menjelma seperti makhluk yang tak pernah mati. Dia kuat bertahan hidup, apapun dan bagaimanapun keadaannya, dia seakan tidak merasa nyawanya terancam. Di musim salju yang amat dingin, dandelion masih dapat tumbuh. Bahkan, saat musim panas yang menyengat, dia seakan tak pernah menyerah untuk selalu mendongak matahari, dan berkata “aku masih tetap bersinar, bung”
Dandelion bisa hidup dimana saja. Di retakan trotoar, di samping rel kereta, atau bahkan di kolong jembatan, dia masih akan tetap hidup, asalkan ada sinar matahari. Aku ingin seperti dandelion, makhluk tegar, kuat, dan pantang menyerah walaupun sebuah musibah besar menimpa kepadaku nanti. Aku tidak pernah mau mengeluh, walaupun kenyataannya aku sering melakukannya. Tapi untuk selanjutnya, aku akan melupakan masalah itu dan mulai membuka lembaran baru lagi.
Dandelion kujadikan sebagai prinsip untuk hidupku. Sekali lagi, aku ingin seperti bunga. Aku selalu ingin menghasilkan manfaat. Bukan hanya aku saja yang dapat menikmati manfaat itu, tapi aku akan menebar semua kenikmatan yang aku miliki untuk mereka. Mereka yang sangat aku sayangi di luar sana, apapun keadaannya, status, atau sekedar babat, bebet, bobot, atau entahlah apa itu namanya. Aku ingin menebar semua kebajikan untuk mereka, aku ingin hidup damai. Sedamai yang aku rasakan saat melihat bunga-bunga indah bertebaran di taman…….
Apa aku sudah cukup bijak sekarang? Hehehe..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar